
ARTIS Nikita Willy baru-baru ini mengambil langkah untuk menjaga kesehatan putra semata wayangnya, Issa Xander Djokosoetono, dengan menjalani salt therapy atau terapi garam. Terapi ini menjadi alternatif untuk mengatasi dampak buruk polusi udara di Jakarta yang semakin mengkhawatirkan.
Terapi garam ini sebagai langkah pencegahan, meskipun sang anak dalam keadaan sehat. “Meski Issa tidak mengalami batuk atau pilek, saya memilih melakukan salt therapy seminggu sekali karena kondisi udara Jakarta yang kurang baik,” tulis keterangan yang dibagikan oleh Nikita Willy dalam Instagram Story-nya.
Sebelum memahami lebih lanjut tentang salt therapy, mari kita pahami bagaimana metode ini dilakukan. Dalam video yang dia bagikan, tampak Baby Issa berada dalam ruangan yang menyerupai gua garam berwarna putih bersih.
Di dalam gua tersebut, terdapat berbagai mainan yang membuat anak-anak merasa nyaman, seperti sekop, ember, dan mainan lainnya. Tujuannya adalah agar anak-anak merasa betah selama berada di dalam ruangan yang mengandung lapisan garam.
Nikita Willy, wanita berusia 29 tahun, percaya bahwa salt therapy memungkinkan anak untuk menghirup garam, yang membantu menyerap racun, alergen, dan partikel udara berbahaya dari saluran pernapasan mereka. Dengan begitu, diharapkan bahan-bahan berbahaya, termasuk akibat dari polusi udara, dapat dikeluarkan dari tubuh Issa.
Baca Juga: Sedang Hits, Ketahui Fakta dan Manfaat Fad Diet Agar Tak Jadi Bumerang
Tapi apa sebenarnya salt therapy atau terapi garam? Menurut informasi dari Salts Of The Earth, terapi garam melibatkan penghirupan garam kering sebagai bentuk pengobatan alami. Terapi ini umumnya dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan cocok tidak hanya untuk orang dewasa, tetapi juga untuk anak-anak bahkan bayi.
Prinsip di balik terapi ini adalah agar partikel garam mikroskopis dapat mencapai paru-paru melalui pernapasan. Terapi ini diyakini dapat membantu mengatasi berbagai masalah kulit, gangguan pernapasan, dan masalah kesehatan lainnya seperti asma, eksim, psoriasis, demam, alergi tertentu, radang selaput lendir, pilek, gangguan tidur dan mendengkur, stres, kecemasan, kelelahan, dan lain-lain.
Efektivitas garam dalam merawat masalah pernapasan berhubungan dengan sifat antiinflamasi dan antibakteri alami yang dimilikinya. Saat garam terhirup, lendir di hidung dan saluran pernapasan menjadi lebih encer, sehingga lebih mudah dikeluarkan.
Selain itu, partikel garam juga dapat merangsang silia, struktur rambut kecil yang membantu membersihkan lendir dan kotoran dari saluran pernapasan. Garam juga dapat menarik patogen, kotoran, dan polutan yang telah terhirup, sehingga membersihkan saluran pernapasan.
Terapi garam sudah dikenal dan digunakan sejak lama oleh banyak orang. Asal mulanya berasal dari negara-negara Eropa Timur seperti Polandia, Rusia, Belarus, Romania, Azerbaijan, Armenia, Slovakia, dan Ukraina.
Pada tahun 1839, seorang dokter bernama Feliks Boczkowski memulai praktek terapi garam di Polandia setelah menemukan bahwa para penambang garam yang sering terpapar aerosol garam memiliki masalah pernapasan yang lebih sedikit dibandingkan dengan penambang lainnya. Garam kering dipercaya memiliki sifat yang mendukung kesehatan pernapasan dan kulit.
Seiring berjalannya waktu, tempat-tempat penambangan garam diubah menjadi fasilitas terapi yang dapat memberikan manfaat kesehatan. Beberapa negara seperti Polandia, Rusia, Belarusia, Rumania, Azerbaijan, Armenia, Slovakia, dan Ukraina secara aktif menerapkan terapi garam ini.
Bagi Nikita Willy dan banyak orang tua lainnya, salt therapy menjadi pilihan alami untuk membantu menjaga kesehatan pernapasan anak-anak mereka di tengah kondisi polusi udara yang semakin serius. Dengan berbagai manfaat yang telah terbukti sepanjang sejarahnya, terapi garam menjadi alternatif menarik dalam menjaga kesehatan pernapasan kita dan orang yang kita cintai. (lna)

Leave a Reply