Jawa Tengah Bersiap Hadapi Puncak Kemarau 2023, Suhu Maksimum Capai 40 Derajat Celsius

Puncak Kemarau 2023
Ilustrasi (pexels/George-Becker)

JoSS, SEMARANG — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis perkiraan bahwa seluruh wilayah di Jawa Tengah (Jateng) akan menghadapi kondisi puncak musim kemarau pada bulan Oktober mendatang. Puncak kemarau tahun 2023 ini diprediksi akan beriringan dengan peningkatan radiasi matahari yang mencapai tingkat maksimal saat memancar ke permukaan bumi.

Koordinator Informasi dan Observasi dari Stasiun BMKG Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Giyarto, menjelaskan bahwa suhu puncak kemarau pada bulan Oktober diperkirakan akan berkisar antara 39 hingga 40 derajat Celcius.

Para petugas lapangan saat ini sedang memantau pergerakan matahari yang akan mencapai titik tepat di atas langit Pulau Jawa saat memasuki puncak musim kemarau.

“Titik suhu tertinggi pada puncak musim kemarau tidak terjadi pada bulan September, melainkan prediksi kami menunjukkan suhu paling tinggi akan terjadi pada bulan Oktober. Kami memperkirakan suhu bisa mencapai 39-40 derajat Celcius,” ungkap Giyarto pada Jumat (18/8/2023).

Baca Juga: Polda Jateng Waspadai Ancaman Kebakaran di Lahan Dekat Jalan Tol Saat Kemarau

Giyarto juga menjelaskan bahwa pergerakan matahari memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan suhu udara di wilayah Jateng serta mempengaruhi tingkat kelembapan udara setiap daerah. Peningkatan suhu udara saat puncak kemarau juga disebabkan oleh posisi matahari yang diprediksi akan berada di garis ekuator selatan.

“Perubahan posisi pergerakan matahari menyebabkan matahari berada di sekitar ekuator dan di atas Pulau Jawa, yang didukung oleh radiasi matahari serta adanya awan konvektif. Oleh karena itu, suhu udara akan terasa sangat panas,” terangnya.

Lebih lanjut, BMKG tengah berupaya untuk mempersiapkan langkah-langkah menghadapi situasi yang mungkin timbul. Salah satu fokusnya adalah dalam menyosialisasikan spartan BMKG yang berisi panduan antisipasi terkait risiko kebakaran dan kekeringan hutan dan lahan.

“Kami sedang melakukan langkah pencegahan ini. Segala aspek yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahanp terus kami pantau,” tutup Giyarto. Dengan kesiagaan dan upaya antisipatif ini, Jawa Tengah berharap dapat menghadapi puncak musim kemarau dengan lebih siap dan aman. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*