Tiga Tradisi Malam 1 Sura yang Populer di Jawa Tengah, Jadi Wisata Religi

Tradisi Malam 1 Sura Jateng
Kirab Satu Sura Solo (Dokumentasi Dinas Pariwisata Solo)

MALAM 1 Sura atau Suronan merupakan tradisi yang cukup populer di kalangan masyarakat Jawa, termasuk di Jawa Tengah (Jateng). Masyarakat Jawa Tengah sering kali memperingati Malam 1 Sura atau Suronan dengan berbagai macam tradisi. Berikut ini adalah tiga tradisi Malam 1 Sura yang cukup populer dan terkenal di Jawa Tengah.

Pada tahun ini 1 Muharram jatuh pada Rabu 19 Juli, yang juga dikenal sebagai 1 Sura. Untuk menyambut Malam 1 Sura, berbagai ritual dan tradisi diadakan oleh sebagian masyarakat Jawa, termasuk di Jawa Tengah. Setiap tempat atau daerah memiliki tradisi yang berbeda-beda.

Menurut informasi dari id.wikipedia.org, tujuan dari pelaksanaan ritual atau tradisi ini adalah untuk memohon keselamatan dan ilham dari Tuhan agar terhindar dari perbuatan buruk selama bulan yang dianggap keramat. Masyarakat Jawa menganggap bulan Sura sebagai bulan yang keramat dan waktu yang suci untuk introspeksi diri serta ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Berikut ini adalah tiga tradisi di Jawa Tengah yang dilakukan setiap Malam 1 Sura atau Suronan, dikutip dari solopos.com:

  1. Sedekah Gunung Merapi

Dilaporkan oleh jatengprov.go.id, tradisi Sedekah Gunung Merapi dilaksanakan dalam rangka menyambut Malam 1 Sura atau Suronan di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Ritual yang dilakukan dalam tradisi ini adalah kirab yang mengarak kepala kerbau dari Dusun Temusari menuju Joglo Mandala I.

Setelah melakukan ritual dan doa hingga tengah malam, kepala kerbau beserta sesajinya kemudian dibawa ke puncak Gunung Merapi untuk dilarung. Sementara itu, sejumlah tumpeng menjadi rebutan bagi warga yang telah menunggu di Joglo. Masyarakat percaya bahwa makanan tersebut akan membawa berkah dalam kehidupan mereka.

  1. Kirab Satu Sura Solo

Setiap Malam 1 Sura, Keraton Solo di Jawa Tengah menyelenggarakan ritual jamasan dan kirab pusaka. Kirab dimulai dari keraton tepat pada pukul 24.00 WIB dengan rute melalui jalan protokol dan diiringi oleh para penggawa dan prajurit keraton.

Dalam kirab tersebut, terdapat sekelompok kebo bule atau kerbau albino berkulit putih kemerahan, yang merupakan keturunan dari Kebo Kyai Slamet, yang turut serta sebagai cucuk lampah atau pembuka jalan.

Baca Juga: Tugu Soeharto di Muara Sungai Kaligarang Semarang Jadi Lokasi Favorit Tirakatan Malam 1 Sura

Dilansir dari pariwisatasolo, makna dari ritual Malam Satu Sura atau Suronan ini adalah untuk merefleksikan diri dan mengingat kembali kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan selama setahun yang telah berlalu. Malam 1 Sura menandai pergantian tahun, sehingga diharapkan manusia dapat menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.

Hal yang unik adalah setelah selesainya ritual ini, banyak masyarakat yang mengambil kotoran kebo bule. Bagi sebagian orang, hal ini dipercaya dapat membawa berkah dan kemakmuran.

Acara Kirab 1 Sura di Solo akan diselenggarakan di Pura Mangkunegaran pada tanggal Selasa 18 Juli 2023, atau malam sebelum tanggal 19 Juli 2023

  1. Baritan Asemdoyong

Baritan adalah tradisi turun temurun yang diadakan setahun sekali, tepatnya pada bulan Sura. Dilaporkan dari pemalangkab.go.id, salah satu kegiatan yang dilakukan dalam upacara Baritan adalah pelarungan sesaji.

Pelarungan sesaji merupakan prosesi melemparkan sesaji yang telah disusun rapi di dalam ancak/jolen (miniatur kapal) yang dihias ke tengah laut. Prosesi pelarungan ke tengah laut berlangsung sekitar tiga jam.

Tradisi ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang diperoleh oleh warga Asemdoyong yang mayoritas nelayan. Acara Baritan Asemdoyong, yang merupakan salah satu tradisi Malam 1 Sura atau Suronan yang cukup populer di Jawa Tengah, akan dilaksanakan di Desa Asemdoyong, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, pada tanggal 19 Juli 2023. (lna)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*