
MARAKNYA Kejahatan asusila terhadap anak dan remaja sebagian besar dipicu dari sosial media (medsos). Hal itu diungkapkan oleh seorang pakar kejiwaan subspesialis anak dan remaja lulusan Universitas Indonesia, dr. Anggia Hapsari, Sp.K.J, Subsp. A.R.(K). Dia memaparkan dampak negatif penggunaan media sosial oleh anak-anak, salah satunya adalah risiko terkena kejahatan asusila seperti grooming.
Menurut Anggia, yang merupakan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, grooming merupakan salah satu kejahatan asusila yang sering menimpa anak-anak, di mana pelaku melakukan rayuan dan manipulasi melalui media sosial.
“Dengan semakin dini penggunaan media sosial, anak-anak semakin rentan menjadi korban tindak kejahatan di dunia maya. Risiko child grooming pasti meningkat dengan penggunaan media sosial sejak dini,” ujar Anggia dalam sebuah webinar daring pada Jumat, 21 Juli 2023.
Tidak hanya grooming, penggunaan internet pada usia dini juga berhubungan dengan risiko anak terpapar kekerasan dan konten pornografi. Anggia bahkan pernah menemui pasien anak berusia lima tahun yang menanyakan tentang hubungan seksual karena terpapar kartun pornografi.
Baca Juga: Dua Pelaku Pembunuhan dan Mutilasi Mahasiswa di Sleman Ditangkap di Bogor
Menurut Anggia, meskipun anak-anak usia 13 tahun ke atas sebenarnya sudah bisa mandiri dalam menggunakan gadget dan media sosial, mereka masih memerlukan pengawasan dari orangtua.
Anggia menekankan bahwa media sosial bisa memberikan dampak buruk seperti grooming, perundungan dunia maya, dan konten tidak pantas lainnya jika digunakan tanpa pengawasan dan batasan.
“Anak-anak belum memahami batas-batasnya, sehingga risiko mereka berinteraksi dengan orang asing yang berpotensi menyalahgunakan hubungan semakin besar,” ungkap Anggia yang berpraktik di RS Pondok Indah – Bintaro Jaya.
Bagi anak-anak usia 13 tahun ke atas, Anggia menyarankan agar orangtua memberlakukan batasan terbuka, di mana mereka memberikan aturan penggunaan media sosial beserta penjelasan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
“Ketika mereka melampaui batas, penting bagi kita untuk mengingatkan mereka tentang dampaknya pada profil akademik mereka, hasil yang akan didapatkan, serta cara bergaul yang sehat,” tambah Anggia. (lna)

Leave a Reply