Mengungkap Jejak Serabi Kalibeluk, Kuliner Khas Batang dengan Fakta Sejarah Menarik dari Era Mataram

Serabi Kalibeluk BATANG
Surini, seorang perajin Serabi Kalibeluk yang merupakan bibi dari Slamet Suud, meneruskan usaha tersebut bersama putrinya Wafakiyah. (foto: batangkab.go.id)

JoSS, BATANG – Serabi Kalibeluk merupakan kuliner yang melekat di lidah warga Kabupaten Batang bahkan di luar daerah. Namun, kelezatan kuliner ini tidak datang begitu saja, melainkan memiliki fakta sejarah yang menarik untuk diungkap.

Tim penggali Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang melakukan upaya menelusuri fakta-fakta unik yang belum sepenuhnya terungkap dari para narasumber.

Nurrochim, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa penelusuran dilakukan untuk mengangkat Serabi Kalibeluk sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Tim mengunjungi beberapa perajin Serabi Kalibeluk yang ternyata masih ada ikatan keluarga.

Selama penelusuran, mereka mencari informasi seputar sejarah, bahan baku, peralatan yang digunakan, proses pembuatan, penyajian, hingga pemasaran.

Baca Juga: Pemkab Batang Tanam 23.000 Pohon Bakau dan Cemara Laut untuk Mengatasi Abrasi Pantai

“Saat menyusun WBTb nanti, kami melakukan survei ke tempat produksi untuk melihat langsung proses pembuatan dan mendokumentasikannya dalam bentuk gambar dan video serta melakukan perbincangan dengan para perajin. Hal ini akan memperkuat data dan informasi yang dibutuhkan,” jelas Nurrochim, seperti dikutip dari batangkab.go.id.

Salah satu syarat dalam menyusun WBTb adalah adanya dua generasi yang melestarikan tradisi. Di wilayah Dukuh Proto, terdapat regenerasi produksi kuliner Serabi Kalibeluk yang memenuhi persyaratan tersebut.

Serabi Kalibeluk memiliki kisah asal-usul menarik terkait dengan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram dan seorang penjual serabi bernama Randinem. Kisah tersebut berkaitan dengan penobatan Endang Wirati sebagai permaisuri Sultan Agung, menggantikan Nyi Rantamsari dari Desa Kalisalak.

Surini, seorang perajin Serabi Kalibeluk yang merupakan bibi dari Slamet Suud, meneruskan usaha tersebut bersama putrinya Wafakiyah. Usaha ini masih diminati oleh konsumen dari luar kota yang datang langsung ke tempat produksi untuk mencicipi cita rasa khasnya.

“Rasanya lebih enak di sini karena lembut, berbeda dengan tempat lain,” kata seorang pelanggan yang telah berlangganan selama bertahun-tahun.

Dengan upaya tim WBTb, Serabi Kalibeluk semakin mendapat perhatian sebagai kuliner khas yang tidak hanya menggugah selera, tetapi juga menyimpan cerita sejarah menarik dari zaman Mataram. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*