Kabupaten Banyumas Wilayah Endemis Rayap, Peneliti Unsoed Peringatkan Risiko Serangan Rayap Kayu

Ilustrasi Rayap Banyumas
Ilustrasi Rayap (chayon021)

JoSS, PURWOKERTO – Dosen dari Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Dr. Hery Pratiknyo, mengungkapkan bahwa Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, merupakan daerah yang endemis terhadap serangan rayap.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Hery di sekitar Gunung Slamet, khususnya di sisi timur, selatan, dan barat, menunjukkan bahwa terdapat 11 spesies rayap dengan spesies yang paling dominan adalah Schedorhinotermes sp, yaitu rayap kayu.

Dalam penelitiannya, Dr. Hery juga mempelajari persebaran rayap di wilayah yang berada pada ketinggian berbeda hingga wilayah dataran rendah, terutama di Banyumas, untuk mengetahui adanya perbedaan persebaran di setiap wilayah tersebut.

“Meskipun Schedorhinotermes sp adalah spesies yang paling dominan, namun ketika kami menurun hingga ke daerah Baturraden, Banyumas, dominasi telah berubah. Spesies yang dominan sama dengan yang ada di utara Gunung Slamet, yaitu Macrotermes gilvus, Microtermes insperatus, dan Odontotermes javanicus,” ujarnya, dikutip dari Antara.

Menurut Dr. Hery, penelitian tersebut juga melibatkan pengamatan terhadap dampak dan intensitas serangan ketiga spesies rayap tersebut terhadap rumah-rumah penduduk. Hasilnya, terungkap bahwa ketiga spesies tersebut memiliki persebaran yang berbeda.

Baca Juga: Korea Selatan Bantu Pengembangan Program Smart City di Banyumas

Dalam hal ini, spesies Macrotermes gilvus adalah yang paling dominan dalam persebarannya di Banyumas berdasarkan penelitian yang melibatkan sampel dari 31 desa, karena rayap ini ditemukan di semua lokasi yang disurvei.

“Macrotermes gilvus adalah spesies rayap tanah yang sering menyerang kayu pada perumahan. Serangan ini tidak hanya terjadi di permukiman penduduk, tetapi juga di kompleks perumahan,” jelasnya.

Oleh karena itu, Dr. Hery menyarankan bahwa ketika mendirikan bangunan atau rumah, perlakukan tanah di lokasi pembangunan secara khusus untuk mencegah serangan rayap.

Berdasarkan berbagai penelitian, biaya untuk memperbaiki rumah yang rusak akibat serangan rayap lebih besar daripada biaya untuk membangun rumah baru.

“Tanah yang akan digunakan untuk membangun rumah sebaiknya dikeruk dan dibersihkan hingga bersih sepenuhnya, bukan hanya ditumpuk. Terlebih lagi, pembangunan perumahan sering dilakukan dengan mengonversi lahan,” katanya.

Dr. Hery menjelaskan bahwa pembersihan tersebut dilakukan agar tidak ada sisa kayu atau akar yang berpotensi menjadi sarang rayap setelah rumah atau bangunan tersebut selesai dibangun.

Rayap tanah, termasuk Macrotermes gilvus, memperoleh sumber makanan dari selulosa pada sampah humus atau kayu yang lembab.

“Kayu yang terkubur dalam tanah menjadi lembab dan menjadi sumber makanan serta sarang bagi rayap,” tambahnya.

Dr. Hery mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah humus atau kayu di sekitar rumah, karena itu sama saja dengan memberi makan rayap. “Jika sampah ini habis, rayap akan pindah ke rumah,” pungkasnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*