Prakiraan BMKG: Kemarau di Jateng Selatan dan Pegunungan Tengah pada Juli-Agustus 2023

Kemarau Jateng Selatan
Ilustrasi. BMKG memprediksi beberapa bagian Jateng akan alami puncak musim kemarau Juli-Agustus. (Engkos Kosmadi)

JoSS, CILACAP – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa beberapa daerah di Jawa Tengah bagian selatan dan pegunungan tengah Jateng akan mencapai puncak musim kemarau pada bulan Juli 2023.

Teguh Wardoyo, Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, menambahkan daerah di Jawa Tengah bagian selatan yang diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada bulan Juli 2023 termasuk bagian tenggara dan selatan Kabupaten Purworejo, serta sebagian wilayah timur laut Kabupaten Cilacap.

Sementara itu, di pegunungan tengah Jawa Tengah, daerah yang diperkirakan mengalami kemarau pada bulan Juli 2023 mencakup sebagian wilayah Banjarnegara dan wilayah utara Kabupaten Wonosobo.

“Berdasarkan prakiraan musim kemarau yang dikeluarkan oleh BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, sebagian besar wilayah Jawa Tengah bagian selatan dan pegunungan tengah Jawa Tengah akan mencapai puncak musim kemarau pada bulan Agustus 2023,” jelasnya seperti dikutip dari Antara, Rabu (14/6/2023)

Baca Juga: BNPB Ingatkan Masyarakat di Jawa, Bali, NTT dan NTB Antisipasi Kekeringan Juni-Agustus

Daerah di Jawa Tengah bagian selatan yang diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada bulan Agustus 2023 meliputi Kabupaten Cilacap, Banyumas, Kebumen, dan Purworejo.

Sementara itu, bagian wilayah pegunungan tengah Jawa Tengah yang diperkirakan mengalami musim kemarau pada bulan Agustus 2023 terdiri dari Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo.

Terkait dengan fenomena El Nino, Teguh menjelaskan bahwa fenomena ini diperkirakan akan berlangsung dengan intensitas lemah hingga sedang hingga akhir tahun 2023, dan kondisi ini akan mempengaruhi tingkat kekeringan dan durasi musim kemarau.

“Selain itu, IOD (Indian Ocean Dipole) diperkirakan akan beralih ke fase IOD positif mulai Juni hingga Oktober, yang juga akan mempengaruhi penurunan curah hujan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kombinasi fenomena El Nino dan IOD Positif yang diperkirakan terjadi pada semester kedua tahun 2023 dapat berdampak pada penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jawa Tengah, selama musim kemarau 2023.

Menurutnya, sebagian wilayah diprediksi akan mengalami curah hujan di bawah normal, antara 0 hingga 20 milimeter per bulan, dan beberapa daerah bahkan akan mengalami kondisi tanpa hujan sama sekali pada puncak musim kemarau pada bulan Juli dan Agustus.

Daerah di Jawa Tengah bagian selatan dan pegunungan tengah Jawa Tengah yang diprediksi akan mengalami curah hujan di bawah normal meliputi Kabupaten Purbalingga, bagian tengah Kabupaten Banyumas, sebagian Cilacap, sebagian Kebumen, sebagian Purworejo, sebagian Banjarnegara, dan sebagian Wonosobo.

Teguh menyampaikan bahwa langkah strategis yang dapat dilakukan dalam menghadapi dampak musim kemarau adalah dengan mengoptimalkan penggunaan infrastruktur pengelolaan sumber daya air seperti waduk, bendungan, dan embung untuk menyimpan air dari musim hujan guna memenuhi kebutuhan selama musim kemarau.

“Selain itu, diperlukan efisiensi penggunaan air, karena potensi kekeringan selama musim kemarau, dan harus melakukan antisipasi terhadap risiko kebakaran hutan,” katanya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*