SEJUMLAH ilmuwan telah menemukan bahwa 700 ribu tahun yang lalu, “Zaman Es Hangat” telah menyebabkan perubahan permanen dalam pola iklim. Pada saat itu, suhu Bumi sangat hangat dan lembap seiring dengan berkembangnya gletser kutub.
Perubahan dramatis dalam iklim Bumi ini dianggap bertanggung jawab atas perubahan siklus iklim secara keseluruhan dan menjadi langkah penting dalam evolusi iklim Bumi.
Tim peneliti, termasuk geolog dari Universitas Heidelberg Jerman, menggunakan data geologi terbaru dan simulasi komputer untuk mengungkapkan hubungan yang tampak paradoks. Hasil penemuan ini kemudian diterbitkan dalam artikel berjudul “Moist and Warm Conditions in Eurasia During The Last Glacial of the Middle Pleistocene Transition” yang dimuat dalam jurnal Nature pada tanggal 10 Mei 2023.
Zaman es, yang merupakan periode glasial, ditandai dengan perkembangan lapisan es besar di belahan Bumi utara. Dalam 700 ribu tahun terakhir, pergeseran antara periode glasial dan periode hangat terjadi setiap 100 ribu tahun.
Namun, sebelumnya, siklus iklim Bumi mengalami periode glasial yang lebih pendek dan lemah dengan siklus 40 ribu tahun. Perubahan signifikan dalam siklus iklim ini diduga terjadi selama era Transisi Pleistosen Tengah sekitar 1,2 juta hingga 670 ribu tahun yang lalu.
Andre Bahr, seorang profesor di Institute of Earth Sciences yang terlibat dalam penelitian ini, menjelaskan bahwa mekanisme yang bertanggung jawab atas perubahan kritis dalam ritme iklim global masih belum sepenuhnya diketahui.
Mekanisme ini tidak dapat dikaitkan dengan variasi parameter orbit yang mengatur iklim Bumi. Namun, Zaman Es Hangat yang baru-baru ini diidentifikasi memainkan peran penting dalam akumulasi kelebihan es benua.
Investigasi yang dilakukan oleh Bahr dan rekan-rekannya melibatkan analisis riwayat iklim dari inti bor di lepas pantai Portugal serta catatan tanah aluvial dari dataran tinggi Cina yang kemudian dimasukkan ke dalam simulasi komputer. Model penelitian tersebut mengungkapkan tren pemanasan jangka panjang yang luar biasa dan peningkatan kelembapan di daerah subtropis selama 800-670 ribu tahun terakhir.
Selama zaman es terakhir dalam periode Transisi Pleistosen Tengah ini, suhu permukaan laut di Atlantik Utara dan Pasifik Utara tropis lebih hangat daripada fase antara periode glasial sebelumnya. Perbedaan suhu ini menyebabkan peningkatan kelembapan dan curah hujan di Eropa Barat Daya, yang memfasilitasi perluasan hutan Mediterania dan memperkuat monsun musim panas di Asia Timur.
Dikutip dari Science Daily, penemuan Zaman Es Hangat ini menjadi semakin luar biasa ketika diketahui bahwa kelembapan tidak hanya terbatas pada daerah subtropis, tetapi juga mencapai daerah kutub dan berkontribusi pada perluasan lapisan es di Eurasia Utara. Seperti yang disebutkan sebelumnya, lapisan es di belahan Bumi utara ini merupakan ciri khas dari periode glasial atau zaman es geologis.
Peneliti menyoroti pengaruh signifikan dari periode Transisi Pleistosen Tengah dalam membentuk siklus iklim Bumi seperti yang kita kenal saat ini. Pergeseran menuju siklus 100 ribu tahun antara periode glasial dan hangat, yang telah berlangsung selama 700 ribu tahun terakhir, menandai titik balik penting dalam sejarah iklim Bumi.
Pemahaman baru tentang hubungan kompleks antara Zaman Es Hangat, peningkatan kelembapan, dan perluasan gletser kutub membuka jalan baru untuk menjelajahi dinamika sistem iklim Bumi yang kompleks.(lna)

Leave a Reply