JoSS, UKRAINA – Sebuah ledakan terjadi di Bendungan Nova Kakhovka meledak yang menyebabkan tenggelamnya sebuah kota di Ukraina. Menurut layanan darurat Kakhovka, sekitar 600 rumah terendam akibat bencana ini.
Wali kota yang ditunjuk oleh Rusia, Vladimir Leontyev, mengonfirmasi bahwa bendungan tersebut meledak pada hari Selasa (6/6) dan menyebabkan banjir yang tak terkendali. Leontyev menjelaskan bahwa air dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kakhovka meluap dengan tidak terkendali setelah ledakan.
“Pada saat PLTA Kakhovka runtuh, air keluar dengan kekuatan yang tak terkendali,” ujar Leontyev dalam wawancara di saluran TV Channel One seperti yang dilaporkan oleh TASS pada hari Selasa (6/6/2023).
Video yang belum terverifikasi di media sosial menunjukkan bagaimana air melonjak melalui sisa-sisa tanggul setelah meledaknya bendungan. Dalam hitungan jam, ketinggian air tersebut langsung meningkat beberapa meter. Bahkan, luapan air ini melintasi zona perbatasan antara kedua negara.
Hingga saat ini, Rusia dan Ukraina saling menyalahkan atas ledakan ini.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, merespon marah dan menuduh Rusia sebagai pelaku perusakan tersebut.
“Penghancuran Bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air Kakhovka hanya menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa mereka (Rusia) harus diusir dari setiap inci tanah Ukraina,” tegas Zelensky dalam pesan di Telegram.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, juga menuduh Ukraina melakukan sabotase terhadap bendungan ini dengan tujuan untuk mengalihkan perhatian dari serangan balas Rusia yang sedang berlangsung.
Bendungan Kakhovka merupakan tanggul dengan tinggi 30 meter dan panjang 3,2 kilometer. Bendungan ini menampung air dalam jumlah yang setara dengan Great Salt Lake di negara bagian Utah, Amerika Serikat.
Kakhovka dibangun pada tahun 1965 di Sungai Dnipro sebagai bagian dari PLTA Kakhovka. Selain itu, bendungan ini juga memasok air ke Semenanjung Crimea yang dianeksasi oleh Rusia pada tahun 2014, serta ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia yang berada di bawah kendali Kremlin.
Meskipun terjadi ledakan pada bendungan tersebut, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa tidak ada risiko langsung terhadap pabrik nuklir akibat kejadian ini. Namun, IAEA tetap memantau situasi dengan cermat. (lna)

Leave a Reply