JoSS, KUDUS – Antisipasi lonjakan pasien gangguan kejiwaan di tahun politik, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi Kudus, Jawa Tengah, tambah kapasitas ruangan dan siap melayani konsultasi psikologi para calon anggota legislatif di daerah setempat setelah Pemilu Legislatif 2024.
kata Pelaksana tugas Direktur RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus Mustiko Wibowo mengatakan pihaknya memiliki dokter spesialis jiwa satu orang dan dua dokter psikologi klinis serta perawat jiwa bersertifikat serta memiliki apotek klinis khusus pasien gangguan jiwa.
“Sehingga ketika nantinya ada masyarakat yang berkeinginan melakukan konsultasi, termasuk para caleg setelah Pemilu 2024 juga siap melayani,” katanya, belum lama ini seperti dikutip dari Antara.
Dia menuturkan, dengan adanya konsultasi dengan psikolog bisa membentengi mental psikologisnya, sehingga tidak mudah mengalami depresi.
Sementara itu terkait ketersediaan bangsal jiwa, imbuh dia, RSUD Kudus juga siap menambah kapasitasnya ketika ada lonjakan pasien. Sedangkan saat ini dari total 40 tempat tidur terisi 30 tempat tidur.
Sehingga ketika semua tempat tidurnya penuh dan masih ada penambahan pasien, maka pihak rumah sakit juga sudah siap dengan menambah kapasitas tempat perawatannya dengan memanfaatkan ruang perawatan lain yang masih kosong, seperti ruang Dahlia.
Untuk memastikan pasien mengalami gangguan jiwa, pihak rumah sakit juga akan melakukan identifikasi terlebih dahulu dan tidak langsung dimasukkan ke bangsal jiwa.
Jika gejalanya belum berat, maka ditempatkan di ruang perawatan lain. Sedangkan di ruang Cempaka 1 untuk psikosis atau mengalami kesulitan membedakan kenyataan dan imajinasi, seperti bicara sendiri, lama tidak tidur, dan bersikap emosional.
Disediakannya ruang rawat inap khusus dengan jumlah tempat tidur cukup banyak, disebabkan karena RSUD Kudus merupakan rumah sakit rujukan regional pelayanan kesehatan jiwa.
Sementara itu, Psikolog klinis, Roslina Verauli menjelaskan secara psikologis, ada beberapa hal yang dapat terjadi saat seseorang gagal meraih keinginannya. Mulai dari rasa kecewa, depresi, hingga gangguan jiwa.
Dia menjelaskan, caleg yang gagal dan kemudian memasuki fase gangguan jiwa biasanya memiliki riwayat klinis tertentu atau mempunyai masalah emosional dan kepribadian sebelumnya.
“Itu mekanismenya kompleks, bukan tiba-tiba ikut pemilu lalu gagal bisa gila. Sebelumnya ada profil klinis tertentu kalau mereka punya problem emosional dan kepribadian,” kata Roslina.
Menurut Roslina, gagal di Pemilu hanya menjadi pemicu seseorang mendadak mengalami gangguan jiwa. Gangguan kejiwaan ini juga merupakan buntut dari tidak sesuainya harapan dan kenyataan yang diterima oleh seseorang.
Semakin tinggi harapan dan semakin tidak sesuai dengan kenyataan, semakin besar pula emosi negatif yang akan dirasakannya. Emosi negatif itu dapat berupa rasa kecewa, sedih, frustasi, atau depresi.
“Semakin besar gap antara ambisi pribadi dengan realita, responnya akan semakin ekstrem,” tutur Roslina. (lna)

Leave a Reply