[widget id="text-5"]

Pilot Susi Air Diancam Segera Dieksekusi, Begini Sikap Pemerintah Selandia Baru

Philip Mehrtens

JoSS, SELANDIA BARU – Pemerintah Selandia Baru berkomitmen untuk melakukan upaya diplomatik guna membebaskan pilot Susi Air, Philip Mehrtens, yang diculik oleh kelompok separatis di Papua hampir 4 bulan lalu.

Meski ada ancaman eksekusi dari penculik, pemerintah Selandia Baru berusaha mencapai pembebasan secara damai untuk memastikan keselamatan Mehrtens.

Seperti diketahui, TPNPB-OPM telah menyandera Philips Max Mehrtens sejak 7 Februari 2023, nyaris empat bulan. Penyanderaan itu terjadi setelah Philips mendaratkan pesawat Susi Air jenis Pilatus Porter dengan nomor penerbangan SI 9368 di Bandara Paro, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan.

Video terbaru yang dirilis pada Jumat, 26 Mei 2023, menampilkan kelompok separatis Papua mengancam akan menembak pilot warga Selandia Baru tersebut jika negaranya tidak memenuhi tuntutan mereka untuk memulai pembicaraan kemerdekaan dalam waktu dua bulan.

Dalam video tersebut, Mehrtens terlihat memegang bendera Bintang Kejora, simbol Papua Barat, sambil dikelilingi oleh anggota kelompok separatis yang bersenjata.

Dikutip dari Reuters, kelompok bersenjata di dataran tinggi tengah Papua menculik Mehrtens setelah dia mendaratkan pesawat komersial di daerah pegunungan Nduga pada bulan Februari. Mehrtens dalam video itu menyatakan bahwa para separatis menginginkan keterlibatan negara-negara lain selain Indonesia dalam dialog tentang kemerdekaan Papua.

Pemerintah Selandia Baru menyatakan kesediaannya untuk melakukan segala yang mungkin guna memastikan pembebasan aman Mehrtens. Mereka menyadari adanya foto dan video yang beredar dan terus bekerja keras untuk mencapai resolusi damai dalam kasus ini. Namun, pemerintah Indonesia juga berkomitmen untuk bertindak sesuai dengan prosedur operasi standar guna mengatasi situasi ini.

Keterbatasan akses ke medan yang terisolasi dan terjal di dataran tinggi Papua menjadi kendala bagi pihak berwenang Indonesia dalam melakukan negosiasi dan memastikan pembebasan pilot Susi Air tersebut. Oleh karena itu, kelompok bersenjata meminta negara-negara seperti Selandia Baru, Australia, dan negara-negara Barat untuk ikut terlibat dalam pembicaraan dengan Indonesia dan kelompok separatis Papua.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud Md menjelaskan alasan pemerintah menolak bantuan internasional dalam pembebasan pilot Susi Air tersebut. Menurut Mahfud, melibatkan lembaga internasional dalam kasus ini dapat membuat situasi semakin rumit dan melibatkan lebih banyak pihak. Pemerintah Indonesia berupaya menangani kasus ini secara internal tanpa melibatkan negara lain atau campur tangan internasional.

Hingga saat ini, Satgas Damai Cartenz yang ditugaskan oleh pemerintah masih berupaya melakukan operasi penyelamatan untuk membebaskan Mehrtens. Namun, operasi ini terkendala karena kelompok bersenjata menggunakan Mehrtens, serta perempuan dan anak-anak, sebagai tameng hidup. Pemerintah terus berkoordinasi dan berusaha mencari jalan terbaik guna memastikan keselamatan pilot Susi Air tersebut. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


[widget id="text-3"]