Petungkriyono, Surga Tersembunyi di Ujung Selatan Pekalongan

Petungkriyono Pekalongan Selatan
Petungkriyono Kabupten Pekolongan (Istimewa)

PETUNGKRIYONO memiliki keindahan alam yang bisa dibilang lengkap, mulai hutan pinus, pegunungan, air terjun dan berkah alam lainnya, bahkan dijuluki surga yang tersembunyi di ujung selatan Pekalongan.

Secara geografis, Petungkriyono terletak di selatan Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, yang berbatasan langsung dengan daerah Pegunungan Dieng. Dari segi administratif, status Petungkriyono sebagai hutan lindung dibawah pengelolaan KPH Pekalongan Timur yang bekerjasama dengan Dinas Kehutanan dan Pertanian dan pemerintah Kabupaten Pekalongan.

Terdapat 10 desa yang ada di dalam kecamatan Petungkriyono yaitu Desa Curug Muncar, Desa Gumelem, Desa Kasimpar, Desa Kayupuring, Desa Simego, Desa Songgodadi, Desa Tlogohendro, Desa Tlogopakis dan Desa Yosorejo. Di Petungkriyono terdapat 2 gunung yang dapat didaki oleh wisatawan, yaitu Gunung Kendalisodo dan  Gunung Ragajembangan.

Selain itu, Hutan Petungkriyono memiliki potensi wisata yang besar. Di sana banyak air terjun yang mengalir sepanjang musim. Tak hanya itu, hutan ini menjadi habitat beberapa satwa langka yang dilindungi seperti Owa Jawa, Lutung, dan Elang Jawa. Selain itu, tempat ini konon masih dihuni hewan buas salah satunya Macan Kumbang.

Selain jalur Bawang yang dikenal dengan nama “Tol di Atas Awan”, jalur Petungkriyono adalah jalur alternatif lain menuju Dieng dari kawasan Pantura. Berbeda dengan kebanyakan jalur lainnya, rute menuju Dieng via Petungkriyono melewati pelosok hutan rimba. Selain itu ruas jalannya sempit sehingga mobil atau kendaraan roda empat lainnya tidak diperkenankan lewat jalur ini.

Walaupun begitu, ruas jalan ini sebagian besar telah mulus dan beraspal. Pengendara tak akan merasa bosan karena sajian pemandangan alam yang tersaji di sepanjang jalanan yang membelah hutan itu.

Petungkriyono adalah surga tersembunyi. Di dalamnya tersaji banyak pesona alam khas pegunungan. Sepanjang rute itu, pengendara akan melewati sejumlah air terjun yaitu Curug Bajing, Curug Lawe, dan Curug Muncar.

Selain itu, wisatawan yang hobi mendaki gunung bisa mengunjungi hutan ini karena  terdapat dua gunung yang dapat didaki yaitu Gunung Kendalisodo dan Gunung Ragajembangan.

Tak cukup, ada beberapa tempat wisata lain yang dapat dikunjungi seperti River Tubing Sungai Welo dan Kebun Strawberry Petungkriyono.

Hutan Petungkriyono dihuni beragam hewan langka seperti Owa Jawa, Lutung, Elang Jawa, kijang, trenggiling, dan masih banyak lagi. Sementara di sekitar aliran sungainya terdapat spesies diantaranya bunglon jawa, kadal terbang, sanca kembang, dan jenis-jenis lainnya.

Namun di antara berbagai spesies itu, Hutan Petungkriyono juga dihuni oleh beberapa jenis hewan buas salah satunya macan kumbang. Dalam sebuah video yang dibagikan akun YouTube Imam Boedie pada 22 Oktober 2019, tampak sebuah kamera tersembunyi menangkap penampakan macan kumbang yang sedang berkeliling di hutan itu. Walaupun cukup dekat, namun macan itu tidak menyadari keberadaan kamera.

Selain menyuguhkan keindahan alamnya, Petungkriyono juga terkenal akan produksi kopinya. Dilansir dari ugm.ac.id, kopi asli Petungkriyono biasa disebut Kopi Owa. Tak seperti Kopi Luwak yang dihasilkan dari cernaan perut luwak, kopi itu dinamakan “Owa” karena dihasilkan dari habitat alami Owa.

Proses pengolahan pun dilakukan oleh masyarakat yang hidup di sekitar Hutan Petungkriyono. Harapannya, adanya produk kopi ini akan terus mendukung usaha konservasi alam habitat Owa ataupun flora dan fauna lainnya yang hidup di Hutan Petungkriyono.

Spot foto menarik yakni: Landmark Petungkriyono berupa gapura cantik dengan tema khas nya yaitu bambu petungkriyono. Curug Sibedug, Welo Asri, Curug Lawe, Curug Bajing, Curug Muncar dan Telaga Mangunan. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*