Perdagangan Bebas Indo-Pasifik Jadi Isu Utama KTT G7 di Jepang

Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo menghadiri Sesi Kerja Mitra G7 di Grand Prince Hotel Hiroshima, Jepang, pada Sabtu, 20 Mei 2023. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

JoSS, HIROSHIMA – Inisiatif Jepang menciptakan kawasan perdagangan bebas di wilayah Indo-Pasifik lewat kebijakan era Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe bertajuk Free and Open Indo-Pasific (FOIP) menjadi salah satu isu utama yang mencuat di pertemuan KTT G7 2023.

Untuk diketahui, Indonesia merupakan negara yang ikut serta mendukung kebijakan tersebut melalui pembangunan Pelabuhan Patimban sebagai salah satu jalur dagang, yang masih dalam tahap pertama sampai dengan akhir tahun lalu.

Selain Patimban, FOIP juga mengalamatkan isu perdamaian dan kestabilan keamanan kelautan di Indonesia melalui pelatihan dan pengadaan alat-alat pengamanan, serta seminar terkait dengan hukum penerbangan dan laut internasional.

Melalui konseptual FOIP, Negeri Sakura ingin menciptakan stabilitas dan kemakmuran masyarakat internasional dengan menghubungkan Benua Afrika dan Asia serta Samudra Pasifik dan Hindia.

Alasannya, Afrika sangat potensial dengan jumlah populasi mencapai 1,3 miliar orang atau sekitar 17 persen dari total penduduk dunia, pertumbuhan ekonomi rata-rata 4,8 persen (2000-2016), kekayaan sumber daya alam, dan sumber daya manusia (SDM).

“Jepang mengaku berkomitmen mendukung pembangunan kebangsaan di area tersebut, berikut dengan aspek lainnya seperti politik dan pemerintah tanpa pemaksaan dan intervensi,” tulis lampiran tersebut seperti dikutip, Jumat (19/5/2023).

Sementara di Asia, Jepang berkomitmen lebih jauh dalam mempromosikan kualitas pembangunan infrastruktur, perdagangan dan investasi, serta meningkatkan bisnis lingkungan dan pengembangan SDM, serta penguatan konektivitas di kawasan ASEAN.

Dilansir dari bisnis.com, Jepang juga berencana memperluas kesuksesan yang dicapai di Kawasan ASEAN ke wilayah lain seperti Timur Tengah dan Afrika.

Dalam peta proyeknya sejumlah pembangunan dilakukan di dua koridor ekonomi, yakni East-West Economic Corridor dan Southern Economics Corridor.

Proyek-proyek yang dikerjakan di East-West terbagi atas konstruksi Hai Van Tunnel (Vietnam), renovasi Da Nang Port (Vietnam), konstruksi Second Mekong International Bridge di (Laos), perbaikan jalan nasional nomor 9 (Laos), serta perbaikan East-West Economics Corridor (Myanmar).

Sementara di Southern Economics Corridor, ada konstruksi Neak Loeung Bridge (Kamboja), konstruksi Cai Mep-Thi Vai International Port (Vietnam), serta perbaikan jalan nasional No.5 (Kamboja). (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*