Tradisi Lebih Dari Seabad, Bubur India Disajikan Gratis di Masjid Jami Pekojan Semarang Saat Ramadan

Bubur Pekojan Semarang
Bubur India Pekojan Kota Semarang (devanocturno)

SEMARANG merupakan kota yang berdiri sejak lama, yang tentunya banyak jejak dari peninggalan sejarah dan peradaban yang ada. Terutama tersebarnya agama Islam, misalnya di kawasan Pekojan kota Semarang. Sebuah daerah yang memiliki tumpah ruah keberagaman dari berbagai suku dan agama kumpul rukun menjadi satu di sebuah kampung.

Banyak orang bilang kawasan Pekojan adalah kampung Arab sebab banyak keturunan orang Timur Tengah. Namun sebagian yang lain kawasan Pekojan kota Semarang menyebutnya kampung India karena di setiap bulan Ramadan ada tradisi bubur India. Pekodjan sebenarnya berasal dari kata “Kodja” yang berarti kampung orang-orang Kodja. Menurut masyarakat situ, koja adalah suku blasteran antara India-Pakistan.

Mereka mendarat di Indonesia untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam prosesnya tidak jauh beda dengan orang-orang Yaman yang masuk ke tanah Jawa. Kemudian membuat perkampungan dan menerapkan budaya daerahnya, namun setelah berkembangnya zaman budaya mereka berhasil di akulturasikan dengan budaya lokal Jawa.

Kehadiran bubur India menjadi ciri khas perayaan Ramadan di Masjid Jami Pekojan, Kota Semarang, Jateng. Hidangan tersebut biasa dibagikan secara gratis kepada warga sebagai hidangan buka puasa.

Menjelang magrib tiba, banyak orang yang berbondong-bondong untuk mengantre agar bisa mendapatkan makanan ini. Tak hanya menyajikan bubur, berbagai jenis minuman hangat juga disiapkan, begitu pula dengan makanan pendamping lain seperti buah.

Dikutip dari laman jatengprov.go.id, awal mula bubur India menjadi salah satu makanan khas Ramadan khas Masjid Jami Pekojan memang berawal dari orang-orang India. Pada saat itu, mereka singgah di Semarang untuk berdagang.

Tak cuma berdagang saja, dari mereka juga ada yang berdakwah. Ketika itu, domisili mereka ada di wilayah sekitar Masjid Pekojan.

Mereka pun turut membaur dengan warga lokal, sehingga akulturasi budaya pun terjadi. Salah satunya adalah budaya kuliner bubur india ini.

Orang-orang India yang datang berdagang berbagi resep dan mengajak warga lokal untuk membuat bubur bersama. Mulai saat itu, bubur india ini menjadi santapan yang disukai oleh orang-orang sekitar Masjid Pekojan.

Sumber lainnya menyebutkan, bubur India ini dulunya dibawa oleh salah seorang leluhur asal India bernama Anas Salim. Anas Salim merupakan seorang pendatang asal Gujarat yang berkunjung ke Semarang ratusan tahun lalu.

Pertama kali resep dari rempah-rempah bubur India dibuat oleh kakek Anas Salim yang bernama Harus Rofi. Kemudian diturunkan kepada ayahnya Salim Harun.

Sementara Anas Salim adalah generasi ke-3, dan kini Ahmad Ali generasi ke-4. Kurang lebih 120 tahun sudah bubur India tersebut dikenal oleh masyarakat Semarang.

Awalnya Anas Salim bermukim di daerah Petolongan Semarang, dan kemudian mulai memelopori keturunan India untuk berdagang. Selain berdagang, kedatangannya juga membawa resep bubur India hingga dikenal oleh masyarakat pribumi dan menjadi kuliner khas saat Ramadan di Masjid Jami Pekojan.

Ahmad Ali lalu membeberkan apa saja resep dalam membuat bubur India di Masjid Jami Pekojan Semarang.

Ali menjabarkan, bubur India terdiri dari berbagai rempah seperti serai, salam, daun bawang, seledri, kayu manis, santan, bawang putih, iga sapi, dan sengkel sapi untuk kaldu.

Cara memasaknya pun cukup mudah. Rempah-rempah tersebut direbus dalam kuali besar terlebih dahulu. Baru setelah aromanya timbul, masukkan beras sebanyak 23 kg. “Beras ini nantinya untuk 500-an porsi,” tambahnya.

Ali menjelaskan, memasak Bubur India perlu 3 jam. Saat sudah tercampur, beras dan bumbu harus diaduk selama 1 jam dan tidak boleh berhenti. Lalu 2 jam selanjutnya menunggu Bubur India matang. Bagian ini adalah proses terpenting,” terangnya.

Sebelum selesai memasak, Ali mengatakan, ada syarat khusus agar bisa memasak dan menghasilkan bubur india yang benar-benar matang.

“Syaratnya harus iklhas, jika tidak pasti ada kendala, entah bubur tidak matang atau lainya,” jelas pria ramah itu.

Setelah matang, bubur India bisa disajikan dengan bermacam lauk dan sayuran seperti sambal goreng ati, sambal goreng ayam, kare, atau gulai. Kemudian ada juga telur rebus di atasnya.

Saat dihidangkan untuk menu berbuka, biasanya ditambahi minuman berupa teh atau susu. Dulu ada air zam-zam, tapi karena pasokannya disetop oleh Pemerintah Arab Saudi, maka digantikan dengan susu. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*