JoSS, SOLO – IDAI mencatat terdapat 1.645 anak di Indonesia yang menderita diabetes pada Januari 2023, di mana prevalensinya sebesar 2 kasus per 100.000 anak. Jumlah ini meningkat 70 kali lipat dibandingkan di 2010 lalu.
Guru Besar Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Bidang Ilmu Kesehatan Anak, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, FAAP, FRCPI mengatakan anak usia di bawah 4 tahun dilarang untuk diberi konsumsi gula.
Dari temuan kasus tersebut 46,23% diantaranya dialami oleh anak usia 10-14 tahun. 31,05% anak usia 5-9 tahun. 19% pada usia 0-4 tahun dan 3% pada anak usia lebih dari 14 tahun. Kasus DM pada anak kebanyakan terjadi bawaan sejak lahir, namun kebanyakan orang tua tidak mengetahui anak mereka sedang mengalami DM.
Hampir 60% penderitanya adalah anak perempuan. Sedangkan berdasarkan usianya, sebanyak 46% berusia 10-14 tahun, dan 31% berusia 14 tahun ke atas.
“Kalau saya mengatakan anak di bawah 4 tahun gula tidak boleh sama sekali [diberikan],” kata Aman pada konferensi pers Cegah Diabetes Prematur pada Anak dan Remaja di Jakarta Pusat, seperti dikutip dari Antara pada Selasa (28/3/2023).
Larangan konsumsi gula ini menurutnya khusus bagi anak usia di bawah 4 tahun dengan kondisi tubuh normal dan yang kelebihan berat badan. Namun, hal ini tidak berlaku bagi anak kekurangan bobot tubuh.
Kebiasaan konsumsi gula sejak dini, menurut Dokter Spesialis Anak itu dapat menyebabkan diabetes pada anak yang mampu terbawa hingga dewasa. “Karena memang mereka belum sempurna metabolisme tubuhnya,” tambah dia.
Berbeda dengan lemak, Amin mengatakan kandungan lemak tetap boleh diberikan pada anak, dengan catatan tidak melebihi jumlah kalori yang dianjurkan. “Gula memang harus diperhatikan, lemak itu boleh saja tapi tetap dalam koridor jumlah kalori yang dibutuhkan,” ujarnya.
Adapun anak usia 2 tahun-3 tahun membutuhkan 1.125 kilo kalori per hari, sedangkan usia 4-6 tahun membutuhkan 1.600 kilo kalori per hari. Ia pun menambahkan diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang sifatnya kronis dan potensial mengganggu tumbuh kembang anak.
Terdapat dua jenis diabetes yang paling banyak dijumpai pada anak, yaitu DM tipe-1 dengan jumlah kadar insulin rendah akibat kerusakan sel beta pankreas, dan DM tipe-2 yang disebabkan oleh resistensi insulin, di mana level insulin dalam darah normal.
Diketahui prevalensi kasus diabetes mellitus tipe-1 pada anak meningkat sebanyak 70 kali lipat sejak tahun 2010 hingga 2023. Pada 2010 prevalensi kasus diabetes mellitus terhadap anak di Indonesia hanya 0,028 per 100.000 jiwa. Kemudian, pada tahun 2023 prevalensi kasus diabetes mellitus menjadi 2 per 100.000 jiwa.
DM merupakan penyakit metabolik yang sifatnya kronis dan potensial mengganggu tumbuh kembang anak. “Anak bisa kena diabetes, masih banyak orang menganggap diabetes itu hanya penyakit keturunan, padahal diabetes bisa menginfeksi siapapun,” imbuh Aman. (lna)

Leave a Reply