JoSS, JAKARTA – Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) akhirnya resmi membatalkan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 yang rencananya digelar pada 20 Mei-11 Juni 2023 mendatang. Hal ini karena adanya penolakan terhadap Timnas Israel hadir dalam ajang internasional tersebut.
Padahal kerja keras untuk menyambut sekaligus menyukseskan hajatan internasional ini sudah dilakukan. Salah satunya revitalisasi Stadion sepakbola di beberapa kota yang sudah ditentukan.
Di sisi lain biaya revitalisasi stadion tidaklah sedikit. Menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di sela mendampingi Presiden Joko Widodo kunjungan kerja di Tabanan Bali, Kamis (2/2/2023), biaya revitalisasi stadion menelan ratusan miliar rupiah.
“Itu Rp175 miliar semua. Ada lima stadion yang dipakai, terus yang 20 (lapangan) untuk latihan. (Stadion yang direvitalisasi, red.) ada di Palembang, Bandung, Solo, Bali, dan Surabaya,” kata Basuki dikutip dari Antara, Kamis (30/3/2023).
Basuki menjelaskan Kementerian PUPR bertugas renovasi dan memastikan stadion-stadion yang menjadi lokasi Piala Dunia U-20 sesuai standar FIFA. Bahkan, Basuki menjamin revitalisasi rampung sebelum April.
Pasalnya, kata Basuki, proses revitalisasi mendekati 100%. “(Persiapan) menuju itu (100 persen). (Sebelum April 2023) kami siap. Semua yang masuk dalam program (Piala Dunia) U20 dan tempat untuk latihan (juga siap),” janji Basuki.
Namun sayang, Indonesia terpaksa harus gigit jari. Kerja keras menyukseskan ajang Piala Dunia U-20 pun kandas setelah FIFA memutuskan Indonesia batal menjadi tuan rumah gara-gara penolakan terhadap Timnas Israel.
Kekecewaan juga dilontarkan Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka, pasalnya Stadion Manahan Solo menjadi salah satu venue penyelenggaraan telah dipersiapkan sedemikian rupa.
Menurut Gibran yang juga putra sulung Presiden Joko Widodo, seharusnya penolakan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U20 itu disampaikan dari awal. Bukan semua anggran dikeluarkan untuk membenahi stadion agar layak digunakan sesuai standar FIFA, baru melakukan penolakan.
“Kalau dipermasalahkan, harusnya pada protes jauh hari. Kenapa baru sekarang, kenapa tidak dari dulu. Kalau tidak ingin jadi tuan rumah, tidak usah dadi tuan rumah, protes saja,”ungkap Gibran kesal dengan menggunakan bahasa Jawa, Selasa (28/3/2023).
Gibran mengaku dirinya sudah menandatangani kesepakatan sebagai tuan rumah dengan menyiapkan segala saran dan prasarana, salah satunya venue yang harus sesuai dengan standar FIFA.
“Aku komitmen dengan segala konsekuensinya. Yen protes kaet ndek ben. Ora mendekati ngene, wis ngetoke anggaran lagi protes,” keluhnya.
Ia menambahkan,bila benar Piala Dunia U20 batal digelar dan Solo batal jadi venue Piala Dunia, jelas banyak kerugiannya. Mulai dari persiapan venue, memindahkan PKL dan masih banyak lagi.
“Dampaknya akeh, sudah siapkan venue, Persis sudah rugi lho. Memindahkan home base itu gak murah. Dah rugi, ora iso ditonton, ora iso dodolan tiket, pengorbanan PAD (PAD hilang). Tapi saiki Piala Duniane melu ilang, njengkelke,” jelasnya (lna)

Leave a Reply