
JoSS, SLEMAN – Pemberitaan terkait hilangnya salah satu dosen Universitas Islam Indonesia (UII) Ahmad Munasir Rafie Pratama yang tidak ada kabar sejak mengikuti aktivitas di University of South-Eastern Norway (USN), Norwegia pada 5- 12 Februari lalu, terus berkembang semakin liar.
Sejumlah pihak menduga Rafie Pratama yang terlacak terakhir memasuki Boston Amerika Serikat pada 13 Februari itu tak pulang juga karena terlibat gerakan terlarang di luar negeri.
Temuan terbaru Polri menyebut, Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Fakultas Teknologi Industri UII Yogyakarta itu tidak hilang melainkan menghilangkan diri dengan sengaja mengubah rute kepulangan tanpa pemberitahuan.
“Beliau (AMRP) dosen cerdas, kalau ada teori yang mengatakan beliau terkait dengan gerakan-gerakan (terlarang) itu, sangat kecil peluangnya,” kata Rektor UII Yogyakarta Fathul Wahid Senin. (20/2/2023).
Kalangan civitas kampus, lanjut Fathul, juga tidak pernah melihat AMRP dalam aktivitas kesehariannya terafiliasi dengan organisasi atau lembaga yang gerakannya bertentangan dengan visi dan misi akademik dan kebangsaan.
“Tidak pernah kami melihat aktivitas beliau yang terafiliasi dengan lembaga atau organisasi yang visi misinya bertentangan dengan kampus,” kata Fathul meski sampai saat ini pihaknya juga belum memiliki informasi pasti terkait alasan hilangnya AMRP.
“Kemungkinan (AMRP terlibat gerakan terlarang) itu kecil berdasarkan informasi dari koleganya, rekan rekan kerjanya di kampus,” kata Fathul, dilansir dari tempo.co.
AMRP, kata Fathul, justru dikenal karena aktivitasnya sebagai akademisi yang menonjol dengan prestasi.
“Sekolah beliau, atensi pada karya-karyanya sampai beliau menjabat wakil dekan, semua tugas selama ini dijalankan dengan baik,” kata Fathul yang menduga ada sesuatu yang membuat AMRP belum juga pulang.
AMRP juga dikenal memiliki reputasi akademis di tingkat nasional serta internasional dan sering terlibat pengerjaan proyek ilmiah serta publikasi jurnal-jurnal internasional.
“Jadi pertanyaan kami, mengapa orang baik seperti beliau bisa tidak lapor (memberi kabar),” kata Fathul.
Terkait dugaan Polri soal AMRP yang sengaja menghilangkan diri dengan mengubah rute kepulangan, Fathul menyatakan fokus kampus saat ini tetap membawa pulang dosennya itu pulang secepatnya ke Indonesia.
“Misi kami saat ini hanya membawa pulang kembali beliau ke UII dan keluarganya, apapun alasannya,” kata Fathul.
Menurutnya, Polri memiliki hak atas informasi yang dikumpulkan atas AMRP. “Hak Polri menyampaikan data (AMRP menghilangkan diri), bisa jadi itu benar dengan data-data yang ada,” katanya.
Fathul hanya berharap gencarnya pemberitaan atas hilangnya AMRP di media jangan sampai justru menambah alasan dosen itu tidak pulang.
“Kami sangat berharap pemberitaan yang ada tidak menghalangi menambah alasan beliau tidak pulang ke Indonesia,” katanya. (lna)

Leave a Reply