
JoSS, PRANCIS – Produsen ban asal Prancis Michelin bakal mulai diproduksi pada 2024 dan diluncurkan ke publik setahun setelahnya atau 2025. Michelin saat ini masih mengembangkan produk ban tanpa udara bernama Unique Puncture-proof Tire System (Uptis).
Pabrikan berharap ban model ini bisa digunakan pada mobil-mobil penumpang di masa depan. Michelin bahkan telah menggandeng produsen otomotif General Motor untuk bisa menjual produk ini ke publik pada 2025.
Ban tanpa udara ini dibanderol mulai US$40 hingga US$65 atau sekitar Rp622 ribu sampai Rp1 juta per ban (kurs Rp15.568).
Selain Michelin, produsen ban lainnya yang sedang mengembangkan teknologi ini adalah Bridgestone dengan model QuietTrack. Ban ini dilego lebih mahal, yakni US$133 per ban atau sekitar Rp2 juta.
Meski begitu, untuk saat ini ban tanpa udara belum dihadirkan untuk kebutuhan komersial. Namun, pabrikan yang memproduksi ban ini optimistis ban jenis ini akan menjadi pilihan di masa depan.
Optimisme tersebut didasarkan pada kemampuan ban untuk tetap berfungsi normal jika tertembus paku atau benda tajam lainnya sebab memang dirancang tanpa udara sehingga tak mungkin kempis.
Kemampuan ini secara otomatis membuat kita tidak perlu repot membawa ban cadangan selama perjalanan dan bagasi bisa dijadikan untuk menempatkan barang bawaan lebih banyak lagi.
Kemudian bobot untuk satu ban juga juga diakui sangat ringan, tidak seperti ban konvensional yang beratnya sekitar 20 kg.
Michelin mengatakan tidak ada cara untuk mengetahui berapa lama ban itu akan bertahan. Namun pengemudi harus memeriksa ban maksimal lima tahun. Perusahaan mengklaim, ban tanpa udara mampu bertahan sekitar tiga kali lebih lama dari ban konvensional.
Michelin berharap tapak ban bisa bertahan dua hingga tiga kali lebih lama dari ban konvensional. Selain itu pengemudi bisa mengganti karet tapak di sekitar lingkar luar ban saja jika ban sudah aus.
Hal ini berbeda dari ban konvensional yang mengharuskan seluruh bagian ban diganti saat tapak ban aus.
Secara garis besar ban tanpa udara sama dengan ban konvensional. Dari bentuk seperti donat, berwarna hitam, dan terbuat dari karet. Namun, perbedaannya ban tanpa udara tidak dirancang untuk menampung udara, jadi memiliki bentuk dinding berongga.
Ban tanpa udara memiliki struktur unik pada bagian dinding yang berfungsi sebagai penyangga antara bagian tapak ban dengan pelek. Dari struktur tersebut bisa dipahami kerja ban tak akan menggunakan tekanan udara.
Struktur tersebut sekaligus berfungsi sebagai peredam guncangan dan akan membantu suspensi meredam daya kejut ketika menghantam lubang atau jalanan yang tidak rata.
Teknologi ban tanpa udara besutan Michelin dikembangkan selama lebih dari 16 tahun lalu. Di sisi lain, Michelin mengatakan tidak ada cara untuk mengetahui berapa lama ban tanpa udara akan bertahan. Pengemudi harus memeriksa ban maksimal lima tahun. (lna)

Leave a Reply