
BAHAN bakar minyak atau yang sering disebut BBM merupakan bahan bakar minyak yang dihasilkan dari pengolahan minyak. Bahan bakar tersebut kemudian diubah menjadi bahan bakar minyak yang nantinya digunakan untuk menjalankan kendaraan seperti motor, mobil, truk, bus dan lain sebagainya. Akhir – akhir tahun 2022 kemarin harga BBM naik yang cukup tinggi, tentu kabar itu tidak menyenangkan bagi seluruh masyarakat Indonesia terutama yang meliki kendaraan.
Hal yang sesederhana bahan bakar minyak, namun karena kebutuhan yang sangat banyak menjadikan kenaikan harganya menjadikan masalah yang pelik bagi mereka dimana stiap harinya menggunankan kendaraan untuk ber aktivitas yang menimbulkan pro dan kontra.
Menurut CNN Indonesia, Mentri koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjahitan secara terang – terangan menyatakan harga BBM jenis solar, dan pertalite akan dinaikan dalam waktu dekat.
Pemerintah seakan tidak mempunyai pilihan lainkarena harga minyak mentah didunia melonjak dikarenakan terjadinya perang di Rusia – Ukraina. Hal tersebut berpotensi membuat belanja subsidi semakin membengkak.
Ketika harga minyak mentah global melambung, maka biaya operasional pertamina sebagai pihak yang mengimpot komoditas tersebut akan ikut membengkak . Dengan kata lain, modal PT Pertamina (Persero) semakin bertambah, sehingga harga jual BBm ke konsumen ikut meningkat.
Sebagai langkah pemerintah mengambil kebijakan untuk menaikkan anggaran subsidi BBM . dari yang awalnya Rp.152 triliun pada APBN 2022 menjadi 502,4 triliun sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2022. Atinya pemirintah menaikkan 3kali lipat dari anggaran awal.
Kenaikan BBM subsidi terbialang cukup tinggi, pertalite mengalami kenaikan dari Rp.7.600 menjadi Rp.10.000. Solar mengalami kenaikkan dari Rp.5.150 menjadi Rp.6.800. dan pertamax yang merupakan BBM non subsidi mengalami kenaikan dari Rp.12.500 menjadi Rp.14.500.
Pemerintah melalui Menteri ESDM, arifin Tsrif mengatakan bahwa harga minyak dunia tidak bisa menjadi tolak ukur dalam menentukan kebijakan harga BBM. Pola pemakaian BBM bersubsidi dinilai menjadi penyebab utama kenaikkan harga BBM bersubsidi.
Menurut Arin dampak kenaikan BBM berdampak beberapa hal pada masyarakat menengah kebawah. Pertama timbulnya penurunan daya beli dalam jangka pendek karena income effect (dampak pendapatan)yang secara rill mengakami penurunan, meskipun bebannya akan berbeda.
Kedua secara simultan kenaikkan harga BBM akan membuat harga – harga bahan pokok lain ikut naik, tentu saja itu memberatkat masyarakat menengah kebawah yang masih dalam masa pemulihan ekonomi pasca Covid – 19.
Ketiga aspek social masyarakat adalah mendorong angka pengangguran , BBM merupakan bahan bakar dasar operasional perusahaan, dengan adanya kenaikkan harga maka membebani biaya produksi pada perusahaan.
Untuk pertimbangan efisiensi produksi, maka pilihan yang harus diambil yaitu menghentikan perekrutan karyawan baru hingga terpaksa pemutusan tenaga kerja (PHK) sehingga berpotensi menambahnya pengangguran.
Terakhir yaitu dengan meningkatnya angka pengangguran , maka sama halnya meningkatnya angka kemiskinan.(*)
Penulis: Putri Rahmawati, Fakultas Ekonomi,Prodi Ekonomi Manajemen UNWAHAS Semarang
Disclaimer: Tulisan ini sepenuhnya menjadi penanggungjawab penulis, di luar kewenangan redaksi JoSS.co.id

Leave a Reply