
KABAR gembira bagi masyarakat umum sebagai upaya percepatan vaksinasi sekaligus meningkatkan proteksi dari Covid-19. Tak perlu menunggu memperoleh tiket, masyarakat umum sudah bisa mendapatkan vaksin Covid -19 booster ke II.
Juru bicara kementerian Kesehatan Muhammad Syahril mengatakan pelaksanaan ditargetkan bisa dimulai dalam satu sampai dua minggu ke depan.
“Dalam satu hingga dua pekan kedepan masyarakat usia lebih dari 18 tahun sudah dapat vaksin booster kedua tanpa menunggu tiket atau undangan. Untuk pencatatan masih dilakukan manual sambil menunggu (aplikasi) Pcare dan PeduliLindungi disiapkan,” ujarnya, Jumat (20/1/2023).
Syahril menjelaskan, jenis vaksin yang dapat digunakan, yakni vaksin Covid-19 yang telah mendapat persetujuan Emergency Use Authorization atau penggunaan dalam kondisi darurat atau dari Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM. Serta, memperhatikan vaksin yang ada.
Selain itu, vaksinasi Covid-19 dosis IV atau vaksin booster II diberikan dengan jarak waktu 6 bulan sejak vaksin booster I. Vaksinasi pun harus dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan atau di pos pelayanan vaksinasi Covid-19.
Syahril pun mengajak masyarakat yang belum vaksinasi maupun yang belum melengkapi dosis primer juga vaksin booster. Terutama agar mereka segera mendapatkan vaksinasi di fasilitas pelayanan kesehatan atau di pos pelayanan vaksinasi terdekat.
“Kami mengimbau kepada masyarakat yang memang belum divaksinasi ataupun vaksinasinya belum lengkap, agar secepatnya dilengkapi. Jangan menunda dan jangan pilih-pilih vaksin, karena vaksinasi terbaik adalah vaksinasi yang dilakukan sekarang juga,” jelasnya.
Terkait keputusan ini, epidemiolog Dicky Budiman ikut angkat bicara. Menurutnya, ini adalah waktu yang tepat untuk memulai booster kedua bagi tenaga kesehatan dan lanjut usia (lansia).
“Ya saat ini adalah waktu yang tepat karena booster pertama itu rata-rata sudah lima bulan lalu diberikan kepada kelompok tenaga kesehatan dan lansia,” kata Dicky dilansir dari Liputan6.com Selasa (23/1/2023).
Sedangkan, bagi masyarakat umum, maka pemberiannya harus selektif. “Untuk masyarakat umum saat ini menurut saya selektif dulu karena kita harus prioritaskan kelompok yang berisiko tinggi dari sisi kondisi tubuh maupun pekerjaan.”
Tindakan selektif juga perlu dilakukan mengingat adanya keterbatasan tenaga kesehatan, vaksinator, dan vaksinnya. “Masyarakat umum, umumnya bukan kelompok rawan sehingga bisa nunggu.”
Adapun masyarakat umum yang bisa diprioritaskan dalam menerima vaksinasi booster dosis kedua dapat dilihat dari jenis pekerjaan dan kondisi tubuhnya.
“Yang harus mendapat prioritas adalah yang berisiko dari sisi pekerjaan dan kondisi tubuh. Kalau dari sisi pekerjaan ya pelayan publik atau yang di garda terdepan pintu masuk. Misalnya pekerja imigrasi, pelabuhan, dan misalnya juga guru,” pungkasnya. (lna)

Leave a Reply