
JoSS, KUDUS – Hari ke-5 sejak banjir yang melanda area Terminal Induk Jati di Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah, pada 31 Desember 2022 hingga kini genangan banjir belum surut. Hal itu membuat kendaraan dan calon penumpang tidak bisa masuk ke terminal sehingga aktivitas di terminal itu lumpuh.
Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Induk Jati Indarto di Kudus mengatakan genangan banjir mulai terjadi sejak Jumat (30/12) malam. Akan tetapi, keesokan harinya genangan semakin tinggi, tidak memungkinkan calon penumpang masuk ke terminal.
“Genangan di landasan terminal tingginya sampai 50 cm dan genangan di area sekitar pintu masuk lebih tinggi karena tempatnya lebih rendah. Sehingga sulit dilalui,” katanya, Selasa (3/1/20023) seperti dilansir dari Antara.
Dia menuturkan dalam keadaan normal, setiap hari ada 80-an bus malam yang menggunakan fasilitas Terminal Induk Jati di Kabupaten Kudus untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
Semenjak Terminal Induk Jati tergenang, calon penumpang dan bus tidak masuk ke area itu. Meskipun demikian, petugas terminal masih masuk ke kantor.
Operator bus yang biasa menggunakan fasilitas terminal itu untuk sementara menaikkan penumpang di tepi Jalan Agil Kusumadya Kudus yang tidak terdampak banjir dengan pengawasan petugas.
Selain itu, perusahaan otobus yang memiliki garasi untuk sementara diminta menggunakannya untuk menaikkan calon penumpang karena area di tepi Jalan Agil Kusumadya yang bisa digunakan untuk keperluan itu terbatas.
Terminal Induk Jati akan dibuka kembali setelah genangan surut, landasan terminal bisa digunakan, dan jalan menuju ke terminal bisa dilalui.
Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi akibat banjir di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah bertambah dengan saat ini menjadi 805 jiwa, menyusul jumlah desa terdampak banjir bertambah.
“Jika sehari sebelumnya jumlah pengungsi hanya 652 jiwa, hari ini (3/1) bertambah menjadi 805 jiwa, sedangkan desa terdampak sehari sebelumnya hanya 21 desa, saat ini bertambah menjadi 23 desa,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus Munaji di Kudus, Selasa.
Dia menjelaskan data pengungsi akan terus dimutakhirkan karena selama ini cenderung bertambah, termasuk desa terdampak banjir.
Lokasi pengungsian yang tersedia, di antaranya di Gedung DPRD Kudus serta tempat ibadah, balai desa, gedung PKK, SD, serta TPQ.
Dari ratusan warga yang mengungsi tersebut, di antaranya dari Kecamatan Mejobo enam desa yang terdampak banjir, yakni Desa Kirig, Payaman, Gulang, Temulus, Kesambi, Hadiwarno, dan Mejobo.
Dari Kecamatan Jati, kata dia, berasal dari lima desa yang terdampak banjir, meliputi Desa Jati Wetan, Tanjung Karang, Jetis Kapuan, Pasuruan Lor, dan Jati Kulon, sedangkan dari Kecamatan Undaan ada empat desa, meliputi Desa Karangrowo, Ngemplak, Undaan Lor, dan Wates.
Kecamatan Kaliwungu ada empat desa, yakni Setrokalangan, Kedungdowo, Blimbing Kidul dan Banget, sedangkan Kecamatan Jekulo ada tiga desa, meliputi Desa Bulungcangkring, Bulung Kulon, dan Sadang.
Selain menggenangi pemukiman penduduk, banjir juga menggenangi areal persawahan di sejumlah kecamatan, sedangkan ketinggian genangan antara 20-130 sentimeter.
Untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum setiap harinya, sudah disiapkan dapur umum dengan menyiapkan makan secara prasmanan.
Sukarlan, salah satu warga Desa Karangrowo yang mengungsi di gedung DPRD Kudus, mengakui mulai mengungsi sejak tanggal 2 Januari 2023, menyusul ketinggian genangan air di desanya semakin bertambah.
“Sebetulnya genangan banjir di dalam rumah hanya semata kaki, namun akses jalannya tergenang cukup tinggi sehingga aktivitas harian tentunya juga lumpuh. Meskipun ada yang mengungsi masih banyak yang bertahan di rumah untuk berjaga-jaga dari aksi pencurian. Hanya saja, mereka mengeluh belum mendapatkan bantuan makanan,” ujarnya. (lna)

Leave a Reply