Waspadai Penyakit Leptospirosis Pascabanjir, Kasus di Jateng Sudah Mencapai 374 Orang

Pascabanjir
Leptospirosis penyakit disebabkan kuman dalam air seni dan sel hewan yang terinfeksi (Foto:Shutterstock/Jarun Ontakrai)

JoSS, SEMARANG – Dinas Kesehatan Jawa Tengah meminta masyarakat waspada dan mengantisipasi mewabahnya penyakit leptospirosis. Musim penghujan ini tidak hanya memberikan dampak berbagai bencana seperti banjir dan tanah longsor, tapi juga wabah penyakit seperti leptospirosis.

Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman yang ditemukan dalam air seni dan sel hewan yang terinfeksi. Penyakit ini biasanya menyebar melalui air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan seperti tikus, anjing, sapi hingga babi.

Sub Koordinator Penyakit Tidak Menular dan Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng, Arvian Nevi, menyebutkan hingga kini sudah ada 374 kasus leptospirosis di Jateng. Biasanya, mereka terinfeksi penyakit ini dari genangan air atau banjir yang kemungkinan terkontaminasi bakteri Leptospira yang dibawa tikus.

“Itu [leptospirosis] dari tikus yang terinfeksi. Jadi kalau musim hujan ada genangan banjir, tikus ini lari karena tempat tinggalnya kena air. Air kencingnya tertinggal. Ini [urine tikus] yang tertinggal bercampur genangan dan menyebabkan leptospirosis,” jelas Arvian, seperti dilansir dari Solopos.com, Jumat (21/10/2022).

Arvian menambah seseorang mudah terserang penyakit leptospirosis jika kondisi tubuhnya tidak fit. Apalagi, jika di tubuh itu ada luka terbuka sehingga saat terkena air yang terkontaminasi urine tikus menjadi mudah terjangkit penyakit tersebut.

“Jadi kuman itu bisa kena [masuk] kalau tubuh kita ada luka. Bahkan, luka terbuka sekecil apa pun. Misalnya hanya goresan, itu bisa masuk,” terangnya.

Terkait gejala orang yang terkena leptospirosis, Arvian menyebut cirinya hampir sama dengan penyakit lainnya. Orang itu akan bergejala demam, pilek, masuk angin, keram, dan terkadang diikuti dengan kejang-kejang.

“Leptospirosis ini tingkat kematian [fatalitas] juga lebih tinggi daripada demam berdarah [DB]. DB hanya sekitar 2-3 persen, sedangkan leptospirosis bisa mencapai 50 persen. Jadi kalau ada dua kasus, satu bisa meninggal dunia,” ungkapnya.

Ia pun meminta petugas kesehatan di lapangan lebih beka dalam menyikapi penyakit leptospirosis, terutama saat musim hujan maupun di daerah rawan banjir. Jika menemui pasien yang menunjukkan gejala leptospirosis agar ditangani secepatnya dan jangan sampai terlambat.

“Perawat, bidan, harus lebih peka bila menemui gejala yang mengarah ke leptospirosis. Agar penanganan bisa lebih cepat, kalau terlambat diagnosis, telat atau keliru, bisa fatal. Jadi kami sudah bekali petugas kesehatan agar tanggap penanganannya langsung,” jelas Arvian. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*