JoSS, SEMARANG – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menerapkan Siaga Satu menghadapi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan. Seperti sebagian daerah lain di Tanah Air, Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah tersebut mulai diguyur hujan selama sepekan terakhir.
Hendi menuturkan pihaknya menyiagakan petugas untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem. “Menerapkan Siaga Satu kepada semua petugas untuk langkah-langkah preventif,” katanya, belum lama ini.
Lebih lanjut Hendi menjelaskan preventif tersebut yang telah dilakukan antara lain menyiapkan peralatan untuk pengurukan. Titik-titik rawan banjir di Kota Semarang juga ditinggikan seperti Jalan Gajah Raya dan Jalan Medoho, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.
Kemudian menyiagakan peralatan dan sumber daya manusia jika sewaktu-waktu terjadi bencana akibat cuaca ekstrem seperti banjir. “Menyiapkan logistik untuk kemungkinan dapur umum dan meminta relawan-relawan untuk siaga terhadap kemungkinan bencana,” tutur Hendi.
Selain itu juga dilakukan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di titik-titik rawan agar selalu waspada. “Mengedukasi warga di zona rawan bencana,” ujar politikus PDIP tersebut.
Menurut dia, daerah rawan kala hujan intensitas tinggi di Kota Semarang terbagi dalam dua klaster. Pertama, rawan banjir di Muktiharjo Lor, Telogosari, dan Mangkang. Kemudian potensi longsor di Gunungpati, Lempongsari, Tegalsari, dan Candisari.
Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi cuaca ekstrem masih akan membayangi sebagian wilayah Indonesia sepekan ke depan, 9-15 Oktober 2022. Potensinya bahkan mungkin meningkat dibandingkan sepekan ke belakang, 2-8 Oktober 2022.
“Berdasarkan analisis terkini, kondisi dinamika atmosfer di wilayah Indonesia masih cukup signifikan berpotensi mengakibatkan peningkatan potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah dalam sepekan kedepan,” tutur Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam konferensi per daring, Sabtu (8 /10/2022).
Prediksi potensi sepekan ke depan berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer terkini yang menunjukkan adanya sirkulasi siklonik yang membentuk pola belokan angin serta perlambatan kecepatan angin. Keduanya disebutkan dapat meningkatkan aktivitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan.
Lalu, masih ada pengaruh aktifnya fenomena gelombang atmosfer seperti MJO (Madden Jullian Oscillation) yang berinteraksi dengan gelombang Rossby Ekuatorial dan gelombang Kelvin. Mereka secara tidak langsung dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia dalam beberapa hari ke depan.
Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprediksikan potensi curah hujan dengan intensitas sedang-lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang untuk periode 09 – 15 Oktober 2022 di wilayah sebagai berikut: Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua.
Dwikorita juga menyatakan perlu mewaspadai keadaan spesifik untuk periode 3 hari ke depan (8-10 Oktober 2022). Dalam periode ini, berdasarkan prakiraan berbasis dampak hujan lebat yang akan terjadi, beberapa wilayah berada di kategori Siaga: Aceh, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah. (lna)

Leave a Reply