
JoSS, WASHINGTON DC – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia saat ini telah berjalan dengan sangat baik, dengan recovery ekonomi dari pandemi yang terus berlanjut dengan kecepatan tinggi.
Hal tersebut terlihat dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia saat ini lebih dari 5 persen, melampaui pertumbuhan PDB Indonesia pra pandemi.
“Dalam rilis laporan World Economic Outlook terbaru pada bulan Oktober 2022, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi untuk Indonesia sebesar 5,3 persen dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi global kembali turun menjadi 3,2 persen,” paparnya seperti dikutip dari keterangan resmi, Selasa (25/10).
Airlangga mengungkapkan hal itu dalam kegiatan Public Lecture pada The CSIS ASEAN Leadership Forum berjudul “Indonesia’s Economic Priorities: A Conversation with Airlangga Hartarto” telah berlangsung pada Senin (24/10), di Gedung CSIS, Washington D.C.
Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Menteri Perindustrian beserta beberapa Pejabat Eselon 1 dan 2 Kemenko Perekonomian dan Kementerian Perindustrian.
esi awal dibuka oleh Presiden dan CEO CSIS John J. Hamre, dan Director CSIS untuk Kawasan Asia Tenggara Gregory B. Poling, sebagai moderator.
Presiden CSIS menegaskan bahwa komunitas global perlu melihat peran Airlangga Hartarto dalam posisinya sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia dalam menstabilkan perekonomian Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 dan krisis multidimensi global akhir-akhir ini.
Lebih lanjut Airlangga menuturkan pada tahun 2023, Indonesia akan menjadi Ketua ASEAN di mana ASEAN Economic Community akan tetap menjadi komitmen utamanya. Dengan menjadi Ketua ASEAN tahun depan, Indonesia akan melihat upaya-upaya perluasan kerja sama regional dengan mitra ASEAN seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Perjanjian perdagangan serupa dinilai akan semakin memikat, mengingat rantai-pasok global dapat mendukung ketahanan ekonomi negara-negara dunia dalam menghadapi berbagai krisis di masa depan. Indonesia berharap fasilitasi perdagangan yang lebih luas dapat mengurangi tarif bea masuk sekitar 92 persen barang dan jasa.
Pada kesempatan tersebut, Airlangga juga menjelaskan tentang lesson learned yang diperoleh Indonesia di masa pandemi. Pertama, dalam situasi ekonomi yang sulit, pendekatan kebijakan harus fleksibel dengan semua instrumen kebijakan yang harus siap dan memiliki kapasitas maksimal. Kedua, di masa pandemi, respons kebijakan kesehatan dan ekonomi harus dilakukan secara bersamaan.
Ketiga, menjaga momentum pertumbuhan adalah kunci keberhasilan strategi kebijakan untuk mengatasi pandemi. Di bawah Komite PC-PEN, Indonesia menerapkan kebijakan “Gas dan Rem” untuk menyeimbangkan aspek kesehatan (kehidupan) dan aspek ekonomi (penghidupan). Dan keempat, pentingnya meningkatkan kapasitas pelayanan kesehatan di dalam negeri.
“Saya percaya bahwa pada masa-masa perlambatan ekonomi adalah kesempatan bagi negara-negara seperti Indonesia untuk melakukan reformasi struktural. Reformasi yang mungkin bisa membutuhkan waktu 70 tahun untuk menyelesaikannya, namun Indonesia bisa melakukannya selama pandemi Covid-19 sehingga ketika pandemi hampir berakhir, kami mulai melakukan restrukturisasi dan reformasi ekonomi,” jelas Airlangga.
Kemudian dalam kesempatan tersebut dia juga menyampaikan bahwa Indonesia juga memanfaatkan momentum pandemi Covid-19 untuk mengembangkan transformasi digital. Antara lain melalui penggunaan aplikasi PeduliLindungi dan mengembangkan sistem e-payment menggunakan QR atau dikenal dengan QRIS.
Di samping itu, Airlangga juga menekankan bahwa Indonesia berkomitmen untuk turut berperan menghadapi tantangan perubahan iklim global melalui transformasi energi dengan upaya diversifikasi energi dan upaya konservasi energi.
Airlangga juga menegaskan pentingnya menjaga stabilitas likuiditas dan nilai tukar. Pada bulan Maret 2022, US Federal Reserve telah meluncurkan Foreign and International Monetary Authorities (FIMO), di mana Bank Indonesia telah mendapatkan akses ke FIMO melalui repurchase agreement line senilai USD60 miliar. (lna)

Leave a Reply