
JoSS, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan stok gandum dalam negeri saat ini hanya bisa bertahan hingga maksimal Oktober. Kondisi ini dipicu oleh penghentian impor yang dilakukan Ukraina sebagai negara produsen utama.
Airlangga menuturkan, kebutuhan gandum untuk industri tanah air sebesar 11,8 juta ton setiap tahunnya. “Misalnya gandum kita butuh 11,8 juta ton dan hampir seluruh industri sudah mulai mempersiapkan (stok), relatif aman bulan September-Oktober,” ujarnya dalam media briefing, Jumat (5/8/2022).
Meski demikian, Airlangga mengatakan masyarakat tak perlu khawatir karena Ukraina kembali membuka keran ekspor gandum. Kapal kargo pembawa gandum Ukraina pun dikatakan sudah meninggalkan pelabuhan Odessa sejak 1 Agustus 2022.
“Kita lihat dari Odessa, salah satu kapal wheat sudah jalan. Ini mudah-mudahan akan menurunkan tekanan terkait gandum,” jelasnya.
Selain itu, untuk mengantisipasi kelangkaan gandum, pemerintah melakukan diversifikasi dengan mengembangkan sorgum di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Pemerintah sendiri menyiapkan subtitusinya, kemarin baru di rapat internalkan, yaitu dalam persiapan pengembangan sorgum dalam bentuk prototype di NTT Flores, juga pengembangan tanaman sagu sedang didalami oleh pemerintah, dan kesiapan dari cassava,” kata dia.
Sementara, stok pangan lainnya seperti beras dikatakan masih ada 7 juta ton lagi. Begitu juga dengan jagung, kedelai, hingga daging, sehingga dipastikan stoknya aman hingga akhir tahun.
Menjaga stok ini bahan pangan ini diharapkan bisa menekan inflasi agar tak melonjak lebih tinggi lagi dari saat ini. “Ini langkah-langkah yang dilakukan pemerintah untuk menjaga inflasi,” pungkasnya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana memperluas area lahan tanaman sorgum di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) guna mengurangi ketergantungan impor gandum dan jagung sebagai sumber pangan.
Hal itu disampaikan Presiden Jokowi usai menanam benih dan memanen sorgum di Kabupaten Sumba Timur, NTT, beberapa waktu lalu.
“Saya perintahkan kepada gubernur dan bupati untuk betul-betul memastikan berapa luasan lahan yang bisa dipakai untuk menanam sorgum sehingga kita tidak bergantung kepada gandum, tidak bergantung pada jagung dari impor,” kata Presiden Jokowi saat memberikan keterangan pers melalui video yang diunggah akun YouTube Sekretariat Presiden.
Jokowi menjelaskan lahan di Kabupaten Sumba pernah ditanami jagung, namun kurang produktif. Oleh sebab itu lahan dialihkan pada tanaman biji-bijian sorgum. Saat ini luas lahan sorgum di Kabupaten Sumba Timur mencapai 60 hektare dengan produktivitas sebesar 5 ton per hektare.
Meski masih tergolong uji coba, petani dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp 50 juta per hektare dalam satu tahun atau Rp 4 juta lebih per bulan. Jokowi pun telah memerintahkan Gubernur NTT Viktor Laiskodat dan Bupati Sumba Timur Khristofel Praing untuk memperluas lahan yang bisa ditanami sorgum.
“Kita akan perbesar tanaman sorgum ini di Provinsi NTT dengan harapan kita miliki alternatif pangan dalam rangka (mengatasi) krisis pangan dunia. Kalau kita ada berlebih, ada stok, justru ini yang akan kita ekspor,” kata Jokowi.
Adapun tanaman sorgum dinilai menjadi alternatif sumber pangan selain beras dan jagung, guna menghadapi krisis pangan.
Sebelumnya sejak pandemi Covid-19 merebak, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) telah memperingatkan agar setiap negara memiliki rencana dalam menjaga kelancaran rantai pasok makanan demi mengantisipasi potensi krisis pangan. (lna)

Leave a Reply