

DEWASA ini perkembangan ekonomi di Indonesia semakin maju setiap harinya, salah satunya berhubungan dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Kemajuan seperti ini telah dirasakan oleh para pebisnis pemula hingga yang sudah sukses. Sektor perekonomian dalam bidang ini banyak digunakan karena dirasa lebih efisien dan minim biaya dalam hal produksinya. Digital economy diartikan sebagai pengabdosian teknologi (ICT) ke berbagai sektor kegiatan ekonomi yang memberikan kontribusi terhadap pengembangan aktivitas baru dalam sektor privat dan sektor publik.
Kemajuan perekonomian yang diimbangi dengan perkembangan teknologi terbukti mampu meningkatkan kapasitas pasar ekonomi dalam level mikro. Penyatuan perkembangan bidang ini bisa menjadi perekonomian digital seperti startup. Dalam sektor bisnis sendiri, digital startup mampu memberikan efek atau impact tak terduga yang begitu besar dalam konteks pendapatan. Salah satu perusahaan startup yang sukses salah satunya adalah GO-Jek yang mengembangkan berbagai lini jasa yang beragam. Hal ini mampu menampik image tukang ojek sebagai pengantar orang saja, tetapi juga menjadikan mereka sebagai pengantar berbagai jasa. Ide segar dan cemerlang serta yang mengarah kepada pemberdayaan inilah yang perlu ditumbuhkan bagi para enterprenur khususnya enterprenur Islam.
Meski banyak kemudahan dan manfaat yang didapatkan, tentunya terdapat kendala yang membuat para pebisnis harus berjuang sedikit lebih keras. Pasalnya, Indonesia menurut digital economy index data termasuk Negara dengan titel “slowly advancing”. Artinya Indonesia termasuk negara dengan keterlambatan dalam bidang teknologi, misalnya evolusi dari 3G menuju 4G dari 2008 sampai 2013. Namun demikian, potensi pengembangan ekonomi digital di Indonesia masih terbuka luas bagi para enterprenur, salah satunya bisnis startup yang bergerak di bidang e-commerce. Hal ini bisa dilihat dari pendapatannya yang masih sangat kecil, yakni di angka 1% dari total industri ratel dan berkemungkinan meningkat hingga 20 kali lipat di 10 tahun kedepan.
Ekspektasi besar ini tidak hanya mimpi dan harapan kosong saja, pasalnya performa e-commerce di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup baik selama 5 tahun terakhir ini. Apalagi dengan diimbangi dengan besarnya populasi di Indonesia menjadi pendukung pasar yang menjanjikan serta bonus demografi dengan usia yang sangat adaptif dengan teknologi. Karena di sektor ekonomi digital seperti ini penggunaan smartphone dan internet menjadikannya berpotensi besar. Pengguna smartphone di Indonesia mencapai 86% rumah tangga yang diiringi dengan penggunaan internet yang mencapai 32.2% selama 2013.
Melihat adanya potensi di atas, para pelaku bisnis khusunya bisnis islami perlu gencar mengembangkan ide dan inovasi bisnis digital. Misalnya dengan memanfaatkan momentum hari besar Islam yakni Ramadhan. Banyak orang memanfaatkan bulan Ramadhan untuk membuka bisnis sampingan, tak ayal jika banyak ditemui pedagang-pedagang baru di pinggir jalan ketika Ramadhan. Mulai dari menjual takjil, kue kering, hingga baju muslim. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh perusahaan rintisan teknologi untuk membuat aplikasi yang menyasar ke pasar umat Islam di Indonesia. Contohnya, aplikasi Umma yang diluncurkan pada 25 April 2019. Aplikasi yang dirilis oleh PT. Khazanah Prima Sukses ini menawarkan sejumlah fitur, mulai Al Qur’an digital, jadwal shalat, petunjuk arah kiblat, hingga informasi islami lainnya.
Jika dilihat dari fitur-fitur yang ditujukan bagi muslim Indonesia ini jelas perusahaan tersebut sangat memanfaatkan momen Ramadhan ini. Ekspektasi keuntungan tinggi juga dilihat dari Indonesia yang masuk ke dalam salah satu pasar muslim terbesar di dunia. Dalam Sensus Penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) 2010, jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 207 juta jiwa atau 87 persen dari total penduduk, artinya 13% dari seluruh umat Islam di dunia. Sementara itu, Boston Consulting Group (BCG) memprediksi jumlah penduduk Indonesia yang akan mencapai 267 juta jiwa pada 2020. Dari total tersebut, sebanyak 62 persen warganya berada di kelas menengah.
Dengan persentase kelas menengah di atas, tentunya menggiurkan untuk “digarap” bagi para enterprenur. Karena selain mempunyai daya beli yang cukup tinggi, karakteristik konsumsi juga berbeda dengan konsumen pada umumnya. Karakteristik yang ditujukan adalah dengan sangat memperhatikan aspek spiritualitas dalam produk dan layanan yang digunakan. Kesadaran akan produk halal juga kian meningkat. Hal ini sejalan dengan maraknya tren hijrah di kalangan anak muda saat ini.
Banyak faktor yang memicu fenomena hijrah ini, salah satunya dari internet dan media sosial yang memudahkan akses pada literatur Islam populer. Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir yang termasuk pemegang saham di Umma ini tidak memungkiri ada peluang bisnis yang bagus terhadap aplikasi yang bernuansa Islami. Hal ini didukung pula dari penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Riset Internasional Pew Research Center yang menyebutkan bahwa agama memiliki peran penting bagi kehidupan. Seperti kepercayaan akan menjadi 100 persen jika sudah dikaitkan dengan keyakinan.
Penulis: Fina lukmawati, Fakultas Ekonomi, Prodi Ekonomi Islam UNWAHAS Semarang
Disclaimer: Tulisan ini sepenuhnya menjadi penanggungjawab penulis, di luar kewenangan redaksi JoSS.co.id

Leave a Reply