Pesatnya Perkembangan Bisnis Start-Up dan Peminatnya, Bagaimana Kabar Start-Up Setelah Pandemi?

Bisnis Startup
Ilustrasi Start-Up (Desygner)
Lailatul Uyun, Fakultas Ekonomi, Prodi Ekonomi Islam UNWAHAS Semarang

BISNIS hadir dengan bermacam-macam model, salah satunya adalah bisnis start-up, istilah tersebut bukan lagi sebutan asing yang terdengar di telinga masyarakat Indonesia. Start-up merupakan bisnis rintisan yang bergerak dengan memanfaatkan digitalisasi dalam artian bahwa start-up jenis perusahaan yang memasarkan atau mengenalkan produk serta layanannya melalui sistem online.

Menurut CNN Indonesia, bisnis rintisan atau start up mulai menjamur di negara Indonesia pada tahun 2015, beberapa bisnisnya sudah dikenal masyarakat diantaranya ada Gojek, Tokopedia, Shopee dan lain sebagainya. Perkembangan start-up dari tahun 2015 hingga 2021 tergolong sangat signifikan terutama saat pandemi covid 19.

Kunci start-up yang berhasil bertahan di tengah pandemi yaitu melalui strategi bisnis yang tepat, inovasi produk, kolaborasi serta service excellence atau layanan konsumen. Saat digitalisasi mulai berkembang pesat, begitu juga dengan start-up. Banyak start-up bermunculan dengan inovasi baru serta menawarkan banyak fasilitas berupa produk maupun jasa. Selain itu dengan kemunculan berbagai macam jenis bisnis dan mengikuti pasar, terdapat beberapa job description yang beradaptasi dengan model penawaran kepada konsumen menyesuaikan dengan digitalisasi terutama dalam hal pemasaran.

Sistem pemasaran dalam setiap perusahaan sudah berubah dengan menggunakan dua sistem, yaitu pemasaran dengan cara tradisional dan cara digital untuk menjangkau lebih banyak konsumen serta contributor atau peminat. Ada beberapa start-up dalam proses pemasarannya menggunakan model afiliasi. Akan tetapi terdengar kabar jika pada tahun 2022 ini tidak sedikit start-up yang mengalami Bubble Burst.

Menurut IDX Chanel, Bubble Burst adalah fenomena yang ramai dikaitkan dengan PHK massal di start-up. Kejadian di lapangan ada beberapa start-up yang melakukan pengurangan karyawan, kabar tersebut datang dari e-commerce JD.ID, Aplikasi dompet digital LinkAja dan platform education technology Zenius.

Menurut Cindy Mutia Annur (2022), bubble burst merupakan kondisi bisnis yang mengalami kecepatan kenaikan dan kecepatan penurunan, yang mengakibatkan start-up kesulitan mempertahankan aktivitas bisnisnya terutama dalam bidang pendanaan, karena pada kenyataannya masih banyak start-up yang masih bergantung pada pendanaan untuk menjalankan bisnisya.

Bubble burst memberikan dampak yang sangat besar bagi start-up, kejadian ini menyerang pada pendanaan start-up sehingga muncul masalah kompleks pada manajemen keuangan (cashflow) dan berakibat pada pengurangan karyawan serta PHK yang terjadi berdekatan antara start-up satu dengan yang lain, yang mengalami kondisi tersebut.

Kejadian ini disebabkan karena transaksi jual beli produk di lapangan sudah kembali normal tidak hanya meggunakan dompet digital, terjadinya penurunan permintaan pasar dikarenakan banyak konsumen yang sensitif terhadap promo atau diskon yang mengakibatkan produk kalah bersaing. Selain itu tidak sedikit investor yang menjadi selektif sehingga start-up kesulitan mencari pendanaan untuk memperbaiki cashflow.(*)

 

 

Penulis: Lailatul Uyun, Fakultas Ekonomi, Prodi Ekonomi Islam UNWAHAS Semarang

Disclaimer: Tulisan ini sepenuhnya menjadi penanggungjawab penulis, di luar kewenangan redaksi JoSS.co.id

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*