

DULUNYA dipandang sebelah mata, jangkrik kini banyak dilirik menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Tak bisa dimungkiri, budidaya jangkrik pun semakin hari semakin banyak diminati, terutama bagi pelaku bisnis yang ada di desa-desa.
Apalagi dalam 3 bulan terakhir jangkrik juga sedang melambung tinggi. Selain itu, jangkrik banyak dicari untuk dijadikan pakan hewan peliharaan. Entah itu dijadikan sebagai pakan burung, ikan, ataupun hewan reptil.
Tak hanya bisa menjadi bisnis utama, budidaya jangkrik juga dapat dijadikan usaha sampingan. Banyak petani yang mulai mencoba bisnis satu ini. Ada yang membuatkan tempat khusus di area persawahan, ada juga yang membuatnya di sekitar rumah.
Banyak orang yang mulai tertarik dengan budidaya jangkrik jenis seliring atau cliring ini. Budidaya jenis serangga dengan nama latin Teleogryllus Mitratus ini sangatlah menggiurkan. Bagaimana tidak? Pembudidayaannya yang tidak terlalu sulit dengan modal yang tidak terlalu besar membuat banyak orang tertarik mencobanya. Belum lagi dengan fleksibilitas sehingga para petani jangkrik lebih leluasa dalam menjalankannya.
Bagi petani jangkrik, menggeluti usaha ini cukup memerlukan kesabaran, ketelatenan, dan tenaga yang ekstra. Perawatannya yang gampang-gampang susah membuat para petani jangkrik harus pintar-pintar dalam memilih pakan. Apabila salah dalam pemilihan pakan maka jangkrik tidak akan berkembang dengan baik sehingga menghasilkan panen yang sedikit.
Biasanya jangkrik diberi makan dedaunan seperti daun singkong, daun pepaya, sawi, kol, atau pohon pisang yang telah dipotong kecil-kecil sebelumnya. Selain itu, jangkrik juga perlu diberi campuran pakan ternak ayam dengan pollard agar tetap ternutrisi dan berkembang dengan baik.
Dalam pembudidayaannya jangkrik bisa dipanen saat usia 35 hari. Untuk sekali panen petani bisa mendapatkan kurang lebih 50 kg jangkrik dari penetasan 1 kg telur. Pemasaran jangkrik dilakukan dengan hitungan per kilogram.
Saat ini harga dari petani langsung rata-rata Rp 35.000/kg. Namun, harga jangkrik yang sudah sampai ke tangan pengepul atau ketika beli di kios-kios pakan hewan bisa mencapai kisaran Rp 60.000/kg. Sedangkan untuk telur jangkrik bisa didapatkan dengan harga Rp 250.000/kg.
Namun, harga jangkrik di setiap daerah bervariasi. Meski terkesan menggiurkan, harga yang naik turun ini tidak bisa menjadi patokan bagi petani yang ingin menggeluti bisnis ini. Jika harga jangkrik sedang melambung, petani bisa untung besar. Sebaliknya, jika harga pasarnya terjun payung, para petani jangkrik bisa rugi besar.
Oleh karenanya, sebelum memutuskan menggeluti bisnis budidaya jangkrik, petani haruslahlah mengetahui bagaimana karakter dan kehidupan jenis serangga yang berkerabat dekat dengan belalang ini. Salah satunya terkait lingkungan hidup yang disenangi jangkrik.
Jangkrik yang masuk dalam keluarga Gryllidae ini termasuk hewan yang pemalu. Mereka menyukai lingkungan yang tenang, sunyi, dan jauh dari keramaian. Tidak hanya itu, jangkrik juga harus berada di tempat dengan sirkulasi udara yang baik.
Dalam perawatan jangkrik ini terbilang tidak terlalu susah. Cukup diberi pakan tiga kali sehari yaitu pagi, siang, dan sore. Kemudian diberi daun pisang kering yang banyak di boxnya sebagai tempat bagi jangkrik. Kemudian jangkrik juga perlu disemprot air memakai alat khusus secara rutin agar tetap dalam suhu normal sekaligus jadi minuman bagi jangkrik.(*)
Penulis: Salma Nailatul Nurjanati , FE Manajemen UNWAHAS Semarang
Disclaimer: Tulisan ini sepenuhnya menjadi penanggungjawab penulis, di luar kewenangan redaksi JoSS.co.id

Leave a Reply