
JoSS, TEXAS – Selang sepuluh hari setelah penembakan di Buffalo, New York, Publik Amerika Serikat (AS) kembali dihebohkan dengan aksi penembakan massal yang dilakukan oleh Salvador Ramos di sebuah sekolah dasar di Uvalde, Texas.
Penembakan tersebut menewaskan 21 orang. Penyelidik melaporkan kepada Gubernur Greg Abbot bahwa Ramos menembak neneknya sebelum pergi ke sekolah dan menjalankan aksinya. Namun, Abbot mengakui tak mengetahui lebih lanjut terkait hubungan antara kedua penembakan itu.
Ramos merupakan seorang siswa SMA Uvalde. Ia penduduk Latino yang bejarak sekitar 135 kilometer arah barat Kota San Antonio. Aksinya bermula saat tengah hari. Salvador Ramos meninggalkan kendaraanya lalu masuk ke Sekolah Dasar Robb di Uvalde dengan pistol.
Motif pembantaian itu belum diketahui. Mayoritas korban adalah anak-anak berusia 6 sampai 10 tahun. Rumah Sakit Universitas di San Antonio mengatakan telah menerima dua pasien wanita berusia 69 tahun dan 10 tahun. Keduanya merupakan korban dalam kondisi kritis dari penembakan itu.
Selain menewaskan 21 orang, Ramos juga melukai beberapa orang, termasuk dua polisi. Akhirnya Ramos pun ditembak mati oleh polisi.
Melansir dari New York Post pada Rabu 25 Mei 2022, sebelum aksi penembakan, ternyata Ramos mengirimkan pesan kepada seorang gadis di Instagram. Pesan tersebut berisikan “Saya akan melakuaknnya,” tulis Ramos.
Menurut CNN, ini adalah serangan paling mematikan sejak penembakan SMA Marjory Stoneman Douglas, Parkland, Florida pada 2018 lalu yang menewaskan 17 orang.(ham)
Berita sebelumnya
Baca Juga: Ngeri, Penembakan Masal Di Texas Tewaskan 1 Guru dan 14 Murid

Leave a Reply