Lomban, Tradisi Larung Kepala Kerbau Oleh Masyarakat Nelayan di Jepara Saat Bakda Kupat  

Lomban, Tradisi Larung Kepala Kerbau Jepara
ilustrasi lomban, larung kepala kerbau jepara

SEPEKAN setelah Hari Raya Idulfitri, atau bertepatan dengan Lebaran Ketupat atau Bakda Kupat, masyarakat di Jepara melakukan tradisi (pesta) Lomban atau larung kepala kerbau di tengah laut. Ritual larung sesaji dan kepala kerbau ini sudah menjadi tradisi tahunan bagi masyarakat nelayan di Kabupaten Jepara. Tradisi Lomban ini sendiri diperkirakan sudah berlangsung sejak satu abad lebih.

Sejarawan Jepara Thabroni menuturkan bahwa tradisi lomban ditilik secara akademik, angka  tahun dan dokumen sangat sulit dilacak. Namun diyakini bahwa kemunculannya tidak beda jauh dari tradisi serupa di daerah-daerah pesisir lain.

Menurutnya, tradisi Lomban sudah ada sejak sebelum Islam masuk ke Nusantara. Dia tidak menampik jika tradisi itu awalnya sebagai sesembahan kepada dewa laut atau penguasa laut. Namun, sejak islam masuk tradisi itu berubah bernafaskan Islami. Diantaranya doa-doa dan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki.

Thabroni juga mengatakan bahwa Islam masuk melalui celah-celah tradisi budaya sehingga Tradisi Lomban sudah bernafaskan Islami. Selain itu maksud dari tradisi ini adalah mengucap syukur atas rezeki yang dilimpahkan oleh Yang Maha Kuasa sehingga tidak ada salahnya untuk meneruskan tradisi yang memiliki maksud baik ini.

Terkait dengan kepala kerbau, Thabroni mengartikannya sebagai simbol membuang bala atau keburukan. Selain itu, dalam Tradisi Lomban ada juga jajanan pasar, syukuran, wayang kulit dan makan bersama

Di Jepara sendiri, tradisi Lomban memang identik dengan nelayan. Salah satunya adalah tokoh yang membuat lomban menjadi hidup, yaitu Mbah Sidiq. Sementara itu, budayawan setempat Hadi Priyanto menambahkan bahwa pesta Lomban diperkirakan sudah ada lebih dari satu abad.

Hal itu mengacu pada pemberitaan Kalawarti, sebuah majalah berbahasa Melayu tertanggal 12 dan 17 Agustus 1883.

Tradisi ini biasanya dilakukan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri dan acara dimulai dari Teluk Jepara dan berakhir di Pulau Kelor, sekarang dinamai sebagai Komplek Kartini. Saat ini, Tradisi Lomban dibuka dengan ziarah ke makam Encik Lanang sehari sebelum pelarungan kepala kerbau. Malamnya digelar wayang kulit semalam suntuk.

Selanjutnya, dilakukan doa bersama dan membawa kepala kerbau lengkap dengan sesaji ke tengah laut kemudian di larung. Larung kepala kerbau sendiri dimulai sejak 1920 silam. Tradisi ini oleh masyarakat Jepara juga dikenal sebagai bakda kupat.

Sementara itu, dilansir dari Nu.or.id, ketupat atau kupat memiliki makna filosofi sebagai “ngaku lepat” atau “mengakui kesalahan”. Kupat juga bisa diartikan sebagai “laku papat” atau “empat tindakan” yang diajarkan oleh agama.

Ungkapan “ngaku lepat” ini di berbagai daerah diwujudkan dengan menyediakan makanan ketupat disertai sayuran, biasanya berupa opor ayam, yang diberikan kepada siapapun warga yang singgah ke rumah atau saling antar dengan tetangga dan sanak saudara. Tradisi ini berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang hingga saat ini.

Sedangkan ungkapan untuk “laku papat” diartikan oleh masyarakat Jawa sebagai empat tindakan dengan empat istilah, yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Makna “lebaran” berarti akhir dan usai, yaitu menandakan telah berakhirnya waktu puasa Ramadhan dan siap menyongsong hari kemenangan. Sedangkan “luberan” bermakna meluber atau melimpah rezekinya, layaknya air yang tumpah dan meluber dari bak air.

Pesan moral yang hendak disampaikan dari “luberan” adalah budaya mau berbagi dan mengeluarkan sebagian harta yang lebih (luber) kepada fakir miskin, dengan begitu akan membahagiakan para fakir miskin di sekitar kita.

Adapun “leburan” berarti habis dan melebur, yaitu momen untuk saling melebur dosa dengan saling memaafkan satu sama lain, dengan kata lain dosa kita dengan sesama dimulai dari nol kembali.

Yang terakhir adalah “laburan” berasal dari kata labur atau kapur. Kapur merupakan zat padat berwarna putih yang juga bisa menjernihkan zat cair, dari ini “laburan” dipahami bahwa hati seorang muslim haruslah kembali jernih nan putih layaknya sebuah kapur. (lna)

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*