Kebijakan Ekonomi Dalam Menanggapi Isu Global Warming  

Kebijakan Ekonomi Dalam Menanggapi Isu Global Warming  
ilustrasi Tax Carbon (shutterstock.com)
Finas Rotil Umahat, Mahasiswi Manajemen UNWAHAS Semarang

PARA ilmuwan telah menyadari sejak abad kesembilan belas tentang dampak planet dari karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca lainnya di atmosfer. Dalam beberapa dekade terakhir, kekhawatiran telah berkembang atas masalah perubahan iklim global yang disebabkan oleh peningkatan akumulasi gas-gas ini. Berbagai penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah peer-review menunjukkan bahwa 97% atau lebih dari ilmuwan iklim yang aktif menerbitkan setuju bahwa tren pemanasan iklim selama abad terakhir sangat mungkin disebabkan oleh aktivitas manusia (Cook, et al., 2016). Dikutip dari buku A synthesis of consensus estimates on human-caused global warming Ilmuwan iklim telah mencapai konsensus yang kuat bahwa dengan tidak adanya langkah-langkah untuk mengurangi emisi secara signifikan, perubahan iklim akan menjadi substansial, dengan efek jangka panjang pada banyak sistem fisik dan biologis Bumi. Perubahan ini serta gangguan yang diproyeksikan di masa depan telah mendorong penelitian intensif tentang sifat masalah dan solusi utama berupa kebijakan-kebijakan ekonomi yang potensial. Pada penulisan artikel ini, akan dibahas beberapa upaya menghadapi isu-isu pemanasa global, melalui instrumen-insturmen kebijakan ekonomi.

Menempatkan perubahan iklim dalam kerangka analisis ekonomi, dapat mempertimbangkan emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan planet dan perubahan lain dalam pola cuaca, baik sebagai penyebab eksternalitas lingkungan dan kasus penggunaan berlebihan sumber daya milik bersama. Tanpa intervensi kebijakan ekonomi, emisi karbon dalam skenario business-as-usual diperkirakan akan terus meningkat. Ketika ekonom melakukan analisis biaya-manfaat, mereka menimbang konsekuensi dari proyeksi peningkatan emisi karbon versus biaya tindakan kebijakan saat ini untuk menstabilkan atau bahkan mengurangi emisi CO2. Tindakan kebijakan yang kuat untuk mencegah perubahan iklim akan membawa manfaat yang setara dengan nilai kerusakan yang dapat dihindari. Manfaat mencegah kerusakan ini juga dapat disebut sebagai biaya yang dihindari. Manfaat yang diperkirakan kemudian harus dibandingkan dengan biaya untuk mengambil tindakan.

Model penilaian terintegrasi telah digunakan oleh para ilmuwan dan ekonom untuk menerjemahkan skenario populasi dan pertumbuhan ekonomi, dan emisi yang dihasilkan menjadi perubahan komposisi atmosfer dan suhu rata-rata global (Harris dan Roach, 2018). Model-model ini kemudian menerapkan dalam istilahnya fungsi kerusakan yang mendekati hubungan global antara perubahan suhu dan biaya ekonomi dari dampak seperti perubahan permukaan laut, frekuensi topan, produktivitas pertanian, dan fungsi ekosistem. Dan pada akhirnya model akan mencoba dan digunakan untuk menerjemahkan kerusakan masa depan ke dalam nilai moneter sekarang.

Dikutip dari United Nations Environmental Programme (UNEP) Salah satu bentuk instrumen kebijakan yang digunakan dalam menanggulangi perubahan iklim akibat pemanasan global ini adalah Carbon Taxes. Carbon taxes adalah solusi ekonomi standar untuk internalisasi biaya eksternal adalah pajak per unit untuk polutan. Dalam hal ini, yang diminta adalah pajak karbon, yang dikenakan pada bahan bakar fosil berbasis karbon secara proporsional dengan jumlah karbon yang terkait dengan produksi dan penggunaannya (UNEP, 2016). Pajak seperti ini akan menaikkan harga sumber energi berbasis karbon sehingga memberikan insentif kepada konsumen untuk menghemat energi secara keseluruhan (yang akan mengurangi beban pajak mereka), serta mengalihkan permintaan mereka ke sumber energi alternatif yang menghasilkan emisi karbon lebih rendah (dan sehingga dikenakan pajak dengan tarif yang lebih rendah).

Dari pembahasan yang telah diuraikan diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melakukan eksploitasi sumberdaya, mentransfer, mengolah, hingga membuang memberikan dampak iklim pada bumi. Hal ini dapat diartikan bahwa kegiatan ekonomilah yang menjadi kalatisator problematika ini, sehingga diharapkan kebijakan-kebijakan ekonomi pula yang akan memberikan instrumen mitigasi dan perbaikan atas isu pemanasan global ini. Dalam menciptakan instrumen ini, perlu diciptakan model penilaian yang terintegrasi sehingga dapat dilakukan perhitungan terukur atas dampak dari segala aktivitas ekonomi didunia kepada pemanasan global. Dan setelah ditemukan model-model penilaian ini, diperoleh salah satu instrumen yang menjadi instrumen mitigasi dan penanggulangan pemanasan global, yaitu Carbon Taxes. Carbon taxes adalah solusi ekonomi standar untuk internalisasi biaya eksternal adalah pajak per unit untuk polutan. Dalam hal ini, yang diminta adalah pajak karbon, yang dikenakan pada bahan bakar fosil berbasis karbon secara proporsional dengan jumlah karbon yang terkait dengan produksi dan penggunaannya.(*)

Penulis: Finas Rotil Umahat, Mahasiswi Manajemen UNWAHAS Semarang

Disclaimer: Tulisan ini sepenuhnya menjadi penanggungjawab penulis, di luar kewenangan redaksi JoSS.co.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*