
JoSS, SEMARANG – Dokter Mochamad Abdul Hakam Sp. PD asal Kota Semarang, menyatakan bahwa Hepatitis Akut tidak ada hubungannya dengan vaksin Covid-19. Dengan demikian, beredarnya info yang menyatakan Hepatitis Akut akibat dari vaksin Covid-19, itu tidak benar.
“Bahwa yang disampaikan oleh beberapa orang yang tidak bertanggung jawab, bahwa (Hepatitis Akut) ini disebabkan karena vaksin Astrazeneca itu sama sekali tidak benar,” kata Hakam ditemui di ruang kerjanya di Semarang.
Dia menjelaskan, vaksin Astrazeneca itu tidak digunakan untuk anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Selain itu, reagen yang di dalam Astrazeneca itu adenovirusnya lain dengan penyebab dari Hepatitis Akut. Tidak hanya itu, dalam Astrazeneca tipenya adalah cadok sehingga adenovirusnya sudah dilakukan modifikasi di dalam replikasinya. Dengan begitu, tidak akan terjadi perkembangbiakan dari adenovirus. Sedangkan, Hepatitis Akut ini adalah sub tipe 41.
“Sub tipenya berbeda. Kalau di Astrazenica itu cadok. Di Hepatitis Akut Misterius ini tipenya 41. Jadi sudah bisa disangkal (tidak ada kaitannya Covid-19),” jelasnya lebih lanjut.
Hakam menuturkan, cara penyebaran Hepatitis Akut ini melalui pencernaan seperti makan, dan minum. Bila Hepatitis A, B, C, D dan E untuk penyebarannya biasanya melalui fecal oral. Tapi yang Hepatitis Virus Akut ini tidak hanya dari sistem pencernaan fecal oral tapi juga dari udara. “Karena memang dia koinfeksi (infeksi simultan oleh dua virus) dengan Covid-19. Jadi ada dua kemungkinan. Ini juga masih beredar di beberapa jurnal di luar negeri,” terangnya.
Sedangkan cara pencegahaannya, jelas dia, yaitu tetap melakukan protokol kesehatan. Dari mulai cuci tangan sebelum makan dan minum, dan memakai masker. Bila batuk atau bersin, maka harus menutupnya dan tetap pakai masker. Kemudian, tidak boleh bergantian memakai alat makan. Terutama di kalangan anak. Selain juga, harus buang sampah popok bekas anak balita pada tempatnya. Syukur-syukur, sampah popok itu dibungkus kantong plastik lebih dulu.
“Kalau ini bisa dilakukan, Insya Allah akan bisa mencegah. (Hepatitis Akut) menjauh dari anak kita di Jawa Tengah,” sambungnya.
Hakam menambahkan, Hepatitis Akut ini di beberapa negara, termasuk di Inggris, dan yang dilaporkan di Indonesia, menyerang kalangan anak mulai dari usia 1 bulan hingga 16 tahun. Terutama anak-anak yang memilki imunitas rendah. Seperti, anak-anak yang lahir dengan berat badannya rendah, atau yang mempunyai penyakit autoimun. Mereka itu rentan sekali kemasukan virus termasuk Hepatitis Akut.
Oleh karena itu, bila terjangkit Hepatitis Akut dengan gejala awal yaitu mual, muntah, demam, diare, agar secepatnya berobat ke puskesmas, dokter keluarga, atau klinik pratama. Dengan harapan, gejalanya akan lebih dini diketahui. Tapi kalau dibawa ke fasilitas kesehatannya terlambat seperti sudah kuning, demam tinggi mendekati 40 derajat bahkan sampai penurunan kesadaran, maka ancaman kematian sangat tinggi sekali.
“Kebanyakan yang tidak bisa ditolong adalah yang masuk ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah kuning, penunrunan kesadaran. Selama dia masuk fasilitas kesehatan, mau itu puskesmas,atau rumah sakit dalam keadaan gejala awal, Insya Allah kemungkinan bisa ditolong sangat tinggi sekali,” imbuhnya.
Pihaknya mengajak warga Jawa Tengah agar tidak gelisah dan tidak takut dengan informasi Hepatitis Akut. Tentunya upaya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus di kedepankan. Baik itu di rumah sendiri, rumah tetangga, sekolah, kantor, mengingat kesehatan lingkungan dan kesehatan di dalam rumah itu hal yang sangat penting.
“Karena pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sekarang sangat mementingkan promosi dan edukasi untuk pencegahan. Itu (pencegahan) lebih penting daripada harus mengobati,” pungkas Hakam.Dokter Mochammad Abdul Hakam menjelaskan Hepatitis Akut di kantornya (RMH)

Leave a Reply