Siap Beri Pendampingan ‘Kompas’ Ajak Masyarakat Budidayakan Tanaman Anggur

Mbah Soka menunjukkan teknik penjarangan buah anggur kepada anggota Kompas. (Foto:istimewa)

JoSS, SEMARANG – Komunitas Pecinta Anggur Semarang (Kompas) mengajak masyarakat Semarang dan sekitarnya untuk membudidayakan tanaman anggur. Hingga kini, masih belum banyak masyarakat yang tau bahwa buah yang tergolong mahal dan mewah ini bisa ditanam di wilayah Indonesia.

Sebagian masyarakat enggan untuk membudidayakan tanaman anggur karena ketidaktahuan atau kendala lain seperti ketersediaan lahan bagi warga perkotaan hingga pendampingan dalam merawat tanaman anggur.

Padahal, tidak hanya ditanam di lahan perkebunan, tanaman buah yang memiliki 200 varietas di Indonesia ini bisa dikembangkan di lahan sempit seperti teras rumah maupun di dalam pot sekalipun.

Kompas di bawah arahan Nasoka atau biasa disapa Mbah Soka ini siap memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat Semarang dan sekitarnya yang ingin menanam anggur, gratis tanpa dipungut biaya.

“Kami ingin meng-anggur-kan Semarang, memasyarakatkan anggur di Kota Semarang, mengajak masyarakat menanam anggur. Saya melihat potensi ekonominya besar. Selain untuk dikonsumsi sendiri, banyak varian anggur yang harganya mahal yang bisa dikembangkan,” katanya kepada JoSS.co.id, belum lama ini.

Ada lebih dari 150 orang anggota Kompas yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari pensiunan BUMN, akademisi, karyawan swasta, mahasiswa, pengusaha restoran hingga pengusaha dibidang perikanan.

Anggota tersebut tidak hanya dari masyarakat Semarang saja, tapi juga luar kota. Dari Pati, Pemalang, Kendal, Temanggung, hingga Wonogiri

“Kami dari berbagai latar belakang profesi, memiliki keahlian yang berbeda-beda, memiliki cara dan teknik sendiri dalam mengembangkan anggur. Kami saling melengkapi, sehingga komunitas pecinta anggur ini terus berkembang,” ujarnya.

Penasihat sekaligus mentor di Kompas, Mbah Soka mengatakan, tren urban farming di tengah kondisi pandemi covid-19 berkepanjangan, yang kebetulan juga menjadi fokus pemerintah dalam program green economic, menjadi momentum yang baik bagi masyarakat mulai menanam anggur, setidaknya untuk konsumsi keluarga, atau di skala yang lebih besar memiliki potensi ekonomi luar biasa.

Mbah Soka sendiri memiliki kebun anggur seluas 1.000 meter persegi di daerah Gunungpati Semarang, tak jauh dari kampus Unnes Semarang.

Dia menambahkan Kompas memiliki sejumlah program yang sudah berjalan untuk mewujudkan visinya. Antara lain yakni memperbaiki varietas anggur yang ditanam masyarakat. Dalam hal ini, Kompas telah melakukan penggantian varietas anggur lokal yang ditanam masyarakat dengan varietas anggur impor yang lebih baik.

Sejauh ini, lanjutnya Kompas sudah memiliki sekitar 100 jenis anggur impor dari berbagai negara yang digunakan untuk memperbaiki tanaman anggur masyarakat, seperti Ninel, Transfiguration, Everest, Akademik, Arra15, Midnight Beauty, Carnival, Dubovsky Pink, Senator, Ethalon, dan lain sebagainya.

“Kami lakukan perbaikan secara gratis, paling hanya biaya akomodasi, itu pun kami tidak minta, kecuali luar kota, karena kami juga sudah merambah luar kota. Biasanya yang punya tanaman sudah tahu sendiri. Kami juga memperbaiki tanaman anggur masyarakat yang rusak. Dari tanaman jelek atau rusak jadi bagus. Semua gratis, kami tidak minta bayaran. Selanjutnya kami juga melakukan pendampingan soal perawatan,” jelasnya.

Meski demikian, ada varian-varian tertentu, terutama yang baru diperoleh atau baru masuk ke Indonesia tengah dalam pengembangan/budidaya, dengan harga bibitnya yang masih sangat mahal.

“Misalnya New Shine Muscat, kami sudah punya, tapi belum kami bagikan, masih kami budidayakan. Harga bibitnya saja masih mahal, sekitar Rp 2,5 juta. Ada juga beberapa jenis lain yang harga entres (potongan batang untuk grafting/okulasi) dan cutting (potongan batang untuk stek) saja sampai ratusan ribu. Nanti kalau sudah dikembangkan baru akan kami bagikan,” tuturnya.

Mbah Soka mengungkapkan, Kompas juga tengah menggarap program pelatihan pembuatan pupuk organic. Pupuk organik buatan Kompas diberi nama pupuk organik cair (POC) Akademi, sesuai dengan judul kegiatan pelatihan itu.

“POC Akademik dibuat dari berbagai limbah rumah tangga organik, mulai dari limbah dapur hingga limbah meja makan, yang kemudian diproses dengan diberi campuran bahan khusus yang dikembangkan Kompas,” pungkasnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*