JoSS, SEMARANG – Ketua Komisi A DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh mendorong Pemerintah Provinsi Jateng lebih agresif dalam optimalisasi sektor-sektor unggulan perekonomian di wilayah ini guna mengejar pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari provinsi tetangga.
Hal itu dikemukakan Saleh, untuk menanggapi Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) tahun 2021, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang disampaikan dalam Rapat Paripurna DPRD Jateng di Gedung Berlian, Semarang, Selasa (29/3/2022).
Saleh menuturkan Jawa Tengah memiliki Kawasan Industri di Kendal, Batang, Brebes dan di sejumlah daerah lainnya yang masih perlu digenjot untuk berkontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.
“Ada KIK kendal, KITB, Batang industrial park (segayung), KIW, dan lainnya yang perlu digenjot untuk menaikkan sektor pengolahan industri yang memang masih mendominasi pertumbuhan ekonomi Jateng,” kata Politikus Golkar ini.
Untuk diketahui, berdasarkan data dari Kawasan Industri Kendal, setidaknya ada 72 investor yang tertarik untuk menanamkan modalnya di kawasan industri tersebut.
Tak hanya dari dalam negeri, investor juga datang dari sejumlah negara asing seperti Singapura, Jepang, Malaysia, Hongkong, Korsel, Cina, dan lain-lain.
Realisasi investasi di Kawasan Industri Kendal saat ini telah mencapai 1.701 miliar dollar Amerika dan menyerap 11.580 tenaga kerja. Nilai ekspor dari Kawasan Industri Kendal juga terus mengalami peningkatan.
Pada 2019, nilai ekspor dari Kawasan Industri Kendal hanya berkisar di angka 800.000 dolar Amerika. Kemudian pada 2021 lalu nilai ekspornya tumbuh hingga mencapai 23.500.500 dollar Amerika.
“Potensi besar ini yang perlu dikembangkan ke daerah lain untuk menjadi daya ungkit pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah,” jelasnya.
Tak hanya Kawasan industri, Saleh menegaskan sejumlah sektor masih mendominasi dalam mendongkrak perekonomian Jateng yakni sektor pariwisata, pengolahan, pertanian, kehutanan, perikanan, serta perdagangan besar dan eceran.
“Membaiknya situasi pandemi di Tanah Air diikuti dengan sejumlah pelonggaran kebijakan diharapkan dapat mendorong sektor pariwisata tumbuh positif dan berkontribusi besar bagi perekonomian di wilayah ini,” ujarnya.
Dalam Rapat Paripurna DPRD Jateng tersebut, Ganjar menyampaikan Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2021 sebesar 3,32 persen atau mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2020.
Saleh mengatakan meski pada kuartal ke IV 2021 pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah lebih baik dibandingkan nasional, namun secara kumulatif angka pertumbuhan ekonomi Jateng ini masih di bawah nasional.
“Kalau bicara pertumbuhan ekonomi kuartal ke IV tahun 2021, pertumbuhan ekonomi Jateng sebesar 5,42 persen ini lebih baik dari nasional, di kuartal yang sama pertumbuhan ekonominya 5,02 persen. Tapi jika dihitung secara kumulatif pada tahun 2021 pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah adalah 3,32 persen sedikit lebih rendah dari nasional yakni 3,69 persen,” kata Saleh.
Selain itu, lanjut Saleh bila dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara kumulatif dengan provinsi tetangga, capaian Jateng berbeda tipis. Untuk diketahui Jawa Timur mencatat perekonomian mereka di tahun 2021 tumbuh 3,57 persen, Jawa Barat tahun 2021 tumbuh 3,74 persen dan DKI Jakarta tumbuh 3,56 persen.
“Meski tumbuh positif, pertumbuhan ekonomi Jateng beda-beda tipis dengan provinsi tetangga, namun lebih rendah, jika dibandingkan dengan provinsi tetangga. Sehingga perlu kerja bersama semua pihak untuk bisa mengejar provinsi tetangga dan sesuai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD),” tegasnya.
Tingkat kemiskinan Jateng, seperti disampaikan Ganjar mengalami penurunan sebanyak 175.740 orang dari sebelumnya 11,79 persen pada Maret 2021 menjadi 11,25 persen pada September 2021.
Kemiskinan di Jabar, menurut data yang disampaikan Saleh, pada September 2021 ada sebesar 7,97 persen atau sekitar 4 juta orang, sebelumnya di bulan Maret 2021 penduduk miskin Jabar ada 8,4 persen atau mengalami penurunan sebesar 190.500 orang. Jumlah penduduk miskin di Jawa Timur pada September 2021 sebesar 10, 59 persen atau sekitar 4,259 juta orang menurun 0,81 persen atau sekitar 0,313 juta jika dibandingkan dengan Maret 2021.
“Untuk mengurangi kemiskinan perlu terobosan bersama antara pemerintah pusat, Pemprov Jateng dan kabupaten sehingga programnya tidak jalan sendiri-sendiri,” pungkas Saleh. (lna)

Leave a Reply