Gencatan Senjata Sementara Rusia-Ukraina, Lebih Dari 2 Juta Warga Sipil Mengungsi

JoSS, UKRAINA – Rusia sepakat melakukan gencatan senjata sementara. Ukraina memanfaatkan momen ini untuk mengevakuasi warga sipil melalui enam koridor kemanusiaan. Hingga kini diperkirakan warga Ukraina yang mengungungsi sudah melampaui 2 juta orang.

Jumlah pengungsi akibat invasi Rusia ke Ukraina ini telah menjadi yang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.

Wakil Perdana Menteri Ukraina Iryna Vereshchuk mengumumkan Angkatan Bersenjata Ukraina telah setuju untuk berhenti menembak di daerah-daerah yang saat ini menjadi zona perang, terhitung Rabu 9 Maret 2022 mulai jam 9 pagi sampai jam 9 malam waktu setempat.

Kali ini, Ukraina mendesak pasukan Rusia untuk memenuhi komitmen mereka terhadap gencatan senjata lokal ini.

“Saya memohon kepada Federasi Rusia: Anda telah melakukan komitmen publik resmi untuk genjatan senjata. Kami memiliki pengalaman negatif ketika komitmen yang dilakukan tidak berhasil,” kata Vereshchuk seperti dilansir dari Aljazeera pada Rabu, (9/3/2022).

Enam koridor kemanusiaan yang dimaksud Vereshchuk ini diantaranya kota pelabuhan Mariupol, wilayah selatan Ukraina, yang terkepung.

Lewat koridor kemanusiaan yang akan dibuka tersebut, maka masyarakat yang ada di Mariupol bisa bergerak ke Zaporizhzhia, Enerhodar ke Zaporizhzhia, Sumy ke Poltava, Izyum ke Lozova, Volnovakha ke Pokrovsk dan dari beberapa kota di sekitar Kyiv yang dia identifikasi sebagai Vorzel, Borodyanka, Bucha, Irpin dan Hostomel untuk bergerak ke Ibu Kota Kyiv.

Sebelumnya sejumlah upaya sudah dilakukan untuk membuka rute keluar yang aman bagi warga sipil yang terperangkap dalam beberapa hari terakhir, namun berujung kegagalan. Kyiv dan Moskow saling menyalahkan atas kegagalan tersebut. Koridor Sumy-Poltava adalah satu-satunya yang berfungsi pada hari Selasa.

Invasi Rusia terhadap Ukraina telah berlangsung selama sepekan lebih atau persisnya dimulai pada 24 Februari 2022. Ketegangan terus memburuk dan belum ada  solusi yang dicapai untuk mengatasi krisis ini.

Ukraina adalah negara bekas pecahan Uni Soviet, yang ingin menjadi anggota NATO dan Uni Eropa. Tindakan Ukraina itu, dipandang Moskow bisa mengancam keamanan dan pengaruh Rusia.

Sementara itu, Presiden Volodymyr Zelensky menyatakan ia tak lagi mendesak keanggotaan NATO untuk Ukraina. Hal itu merupakan masalah sensitif yang menjadi salah satu alasan Rusia untuk menyerang Ukraina.

Zelensky juga mengatakan terbuka untuk berkompromi terhadap status Donetsk dan Luhansk, dua wilayah pro-Rusia yang memisahkan diri dari Ukraina. Dua wilayah ini kini diakui oleh Rusia sebagai wilayah independen, sebelum melancarkan invasi pada 24 Februari 2022.

“Saya bisa menjawab dengan tenang mengenai pertanyaan ini. Sejak lama setelah kami memahami bahwa NATO tidak siap untuk menerima Ukraina,” kata Zelensky dalam sebuah wawancara yang disiarkan Senin malam di ABC News.

“Aliansi (NATO) takut akan hal-hal kontroversial, dan konfrontasi dengan Rusia,” ujar Zelensky. Ihwal keanggotaan NATO, melalui seorang penerjemah Zelensky mengatakan tidak ingin menjadi presiden dari negara yang memohon sesuatu dengan berlutut.

Rusia beberapa kali menegaskan bahwa tak ingin Ukraina menjadi anggota NATO. Dalam beberapa tahun terakhir, anggota NATO berkembang ke negra Eropa timur yang merupakan bekas blok Soviet. Hal ini membuat marah yang melihat perluasan NATO sebagai ancaman. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*