
JoSS, Banjarnegara – Akses jalur alternatif Banjarnegara -Dieng dan sebaliknya terputus akibat jalan tertimbun material longsor. Tebing setinggi 20 meter di Desa Limbangan, Kecamatan Madukara, Banjarnegara tersebut longsor. Akibatnya, untuk sementara jalur ditutup untuk kendaraan roda 4.
“Tebing setinggi 20 dan lebar 10 meter longsor. Material tanah longsor menutup jalan penghubung Desa Limbangan ke Desa Larangan atau jalur alternatif ke Dieng,” ujar Babinsa Desa Limbangan Sersan dua Rujito saat ditemui di lokasi kejadian, Senin (21/3/2022).
Dilansir dari detikjateng.com, hingga saat ini material tanah longsor masih menutupi akses jalan. Kendaraan roda 4 dipastikan tidak bisa melalui jalur tersebut.
Sedangkan upaya pembersihan material tanah longsor justru harus dihentikan sementara. Alasannya, masih terjadi pergerakan tanah di sekitar lokasi sehingga cukup membahayakan.
“Ini masih ada pergerakan tanah, jadi demi keselamatan pembersihan material tanah dihentikan sementara,” terangnya.
Adapun pengguna jalan kendaraan roda 2 diimbau untuk waspada lantaran jalan licin. Sementara untuk kendaraan roda 4, ia menyarankan agar melewati jalur Desa Clapar Kecamatan Madukara.
“Untuk roda 2 untuk lebih hati-hati karena jalan licin. Untuk roda 4, sebaiknya lewat jalur lain, yakni lewat Desa Clapar,” jelasnya.
Sebelumnya, peringatan banjir dan tanah longsor sudah disampaikan oleh Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat yang meminta masyarakat diminta untuk peduli terhadap kondisi alam sekitar. Terlebih, kondisi geografis wilayah Wonosobo berpotensi rawan bencana tanah longsor.
Ia menginstruksikan jajarannya untuk membentuk relawan tanggap bencana di setiap desa. “Ini harus menjadi perhatian kita bersama, bagaimana mengoptimalkan kesiapsiagaan bencana melalui pembentukan relawan di 265 desa atau kelurahan, dan setiap desa minimal mempunyai lima orang tenaga relawan,” katanya, belum lama ini.
Bupati Afif juga mengingatkan warganya untuk memiliki kesadaran kolektif guna menjaga kelestarian alam. Langkah sederhana yang bisa dilakukan oleh setiap orang, antara lain tidak membuang sampah di sungai dan tidak membangun rumah di pinggiran kali.
“Terjadinya bencana tanah longsor, mendorong kami untuk melakukan gerakan cinta Sungai Serayu. Semua kotoran berupa sisa pemotongan kayu dan berbagai macam sampah yang ada harus segera dibersihkan, mulai dari hulu di Dieng,” imbuhnya, dikutip dari jatengprov.go.id.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo, Bambang Triyono, mengatakan, terhitung 9-17 Maret 2022, terdapat 103 titik lokasi yang mengalami bencana tanah longsor.
Ratusan lokasi itu tersebar di tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Kepil, Sapuran, Kalibawang, Kaliwiro, Wadaslintang, Mojotengah, dan Garung. Kecamatan Kalibawang merupakan wilayah dengan jumlah lokasi terkena longsor terbanyak, yakni delapan titik longsor setiap hari.
Lebih lanjut, jumlah sementara kerugian yang ditimbulkan oleh bencana tanah longsor di Wonosobo, ditaksir mencapai Rp2 miliar. (lna)

Leave a Reply