2,5 Juta Warga Ukraina Mengungsi, Terbesar Sejak Perang Dunia II

Keluarga dievakuasi dari Donbass setelah pasukan Ukraina yang didukung NATO menyerang separatis Rusia. 20 Februari 2022 (Foto: Twitter @AllenOlessia)

JoSS, UKRAINA – Badan Migrasi PBB mencatat lebih dari 2,5 juta orang telah mengungsi dari Ukraina karena invasi Rusia per Maret (11/3/2022). Ini merupakan krisis pengungsi yang tumbuh paling cepat di Eropa sejak Perang Dunia II.

Dilansir dari Reuters, PBB telah merilis data terbaru terkait jumlah pengungsi Ukraina di laman resmi pada Jumat (11/3). Jumlah ini bertambah sebanyak 200 ribu orang dibandingkan laporan terakhir Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pada Kamis (10/3/2022) lalu.

Terpisah, kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan hampir 2 juta orang mengungsi di Ukraina sampai hari ini. Data menunjukkan terdapat 1,85 juta rakyat Ukraina yang mengungsi di sana.

Jumlah pengungsi yang sampai ke angka 2,5 juta ini naik sampai 500 ribu orang jika mengacu data PBB hanya dalam waktu tiga hari. Disebutkan mayoritas pengungsi merupakan perempuan, anak, dan lansia.

Komisaris Tinggi PBB untuk pengungsi (UNHCR), Filippo Grandi mengatakan angka tersebut ‘mengerikan’. Ia mengatakan belum pernah melihat angka yang demikian signifikan dalam kariernya.

Ukraina sendiri memang telah menerapkan komando cadangan sebagai pertahanan melawan serangan Rusia. Semua pria berusia 18-60 tahun dilarang untuk meninggalkan negara, sehingga banyak dari mereka yang terpisah dari keluarga.

Ia mengatakan mayoritas pengungsi bergerak ke Polandia, Moldova, dan negara-negara tetangga, atau ke wilayah yang mereka memiliki keluarga atau kerabat.

Sementara itu, Rusia makin brutal memperluas agresi mereka dengan melakukan serangan ke tiga kota baru Ukraina pada Jumat (11/3/2022) pagi waktu setempat. Serangan yang diluncurkan itu mengarah ke tiga baru di Ukraina yakni Dnipro yang berada di wilayah, Lutsk, dan Ivano-Frankivsk yang terletak di barat Ukraina.

Serangan yang dilakukan oleh Rusia itu turut pula dikonfirmasi oleh Penasihat Kepresidenan Ukraina, Mykhailo Podolyak. Ia mengatakan Rusia membombardir sejumlah kota besar di negaranya.

“Dnipro juga sedang diserang. Perang Rusia untuk menghancurkan warga sipil dan kota besar terus terjadi,” kata Podolyak dalam sebuah pernyataan Twitter, Jumat (11/3).

Tak hanya Dnipro, Wali Kota Lutsk, Lhor Polishchuk, melaporkan ledakan juga terjadi di lapangan udara kota itu, dikutip dari media lokal Ukraina, UNIAN. Dua tentara Ukraina dilaporkan tewas akibat gempuran Rusia ke pangkalan militer di barat laut Lutsk.

“Ledakan terjadi di arah lapangan udara. Semua orang berlindung di bunker!,” kata Polishchuk seperti dikutip CNN.

Tak hanya itu, tiga ledakan besar dilaporkan terjadi di kota Ivano-Frankivsk. Polishchuk menuturkan bombardir Rusia yang tiba-tiba membuat pihak berwenang tak dapat menyalakan sistem peringatan di wilayah itu.

Dilansir dari Reuters, Rusia pun telah mengklaim berhasil menghancurkan dua lapangan udara militer di Lutsk dan Ivano-Frankivsk.

Hal itu diutarakan oleh juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov seperti dilansir dari Reuters pada Jumat (11/3). Disebutkan pasukan Rusia melancarkan serangan jarak jauh terhadap dua pangkalan udara militer tersebut.

Konashenkov juga mengatakan pasukan Rusia telah menghancurkan 3.213 instalasi militer Ukraina sejak serangan 24 Februari 2022 lalu. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*