
JoSS, SEMARANG – Penataan pedagang di Pasar Johar Semarang yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu masih menyisakan masalah. Para pedagang menilai penataan lapak tidak mengakomodir pedang lama yang telah berjualan belasan tahun sebelum pasar terbakar pada 2015 silam.
Ketua Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Johar Semarang Rohman mengatakan pihaknya bersama paguyuban pedagang pasar lainnya sudah seringkali melakukan audiensi baik dengan Pemerintah Kota Semarang maupun dengan DPRD Kota Semarang dan dinas terkait, namun realisasi dilapangan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
“Kami sudah lelah. Kami sering diundang audiensi, sudah menyampaikan pendapat namun kenyataan dilapangan tidak jalan. Justru kami merasa di pingpong atau dipermainkan,” katanya kepada JoSS.co.id, Rabu (19/1/2022).
Pihaknya menginginkan penataan lapak pedagang Pasar Johar dikembalikan seperti semula saat sebelum pasar terbakar, paling tidak sebagian besar pedagang lama bisa masuk kembali ke dalam pasar Johar yang baru selesai dibangun.
Dia menilai mekanisme pengundian lapak sarat dengan kepentingan pihak tertentu, sehingga justru banyak pedagang dari luar pasar Johar justru bisa mendapatkan lapak. Sedangkan pedagang asli malah terlempar dari lapak yang lama.
“Saat ini sekitar 400 pedagang yang sudah berjualan dari sekitar 7.000 pedagang yang ada. Di Johar Tengah ini cuma 1 persen pedagang asli yang masuk. Lainnya dari luar pedagang Johar Tengah,” tuturnya.
Menurutnya, tuntutan beberapa paguyuban pedagang yang ada di Pasar Johar ini sama. Misalnya Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Johar, Persatuan Pedagang Cagar Budaya, Persatuan Pedagang Pasar Yaik, dan lainnya ingin atau menuntut agar pedagang bisa kembali ke lapak semula sebelum terbakar.
Baca juga: Proyek Tol Semarang-Demak Ditarget Rampung Oktober 2022
“Kami ingin, penataan lapak pedagang kembali seperti semula. Yang pedagang asli semua dimasukkan dulu, jika ada sisa baru pedagang dari luar bisa masuk. Lha ini kan justru pedagang asli tidak bisa masuk. Semua perwakilan paguyuban pedagang harapannya sama. Kami semua ini kembali bisa berjualan, untuk melanjutkan hidup keluarga kami,” tuturnya.
Dia berharap sebelum Ramadhan, penataan lapak pedagang bisa selesai. Agar perekonomian pedagang kembali bangkit. Selain itu, masih banyak pedagang Pasar Johar yang kini berada di relokasi dekat Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) masih terkatung-katung.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Nur Kholis mengatakan pihaknya sedang berupaya secepat mungkin menyelesaikan penataan pedagang Pasar Johar dan mengevaluasi kebijakan sebelumnya yang dinilainya kurang optimal. Namun pihaknya tetap menghormati kebijakan masa lalu tersebut.
Pihaknyapun siap mengundang para pedagang untuk bersama-sama mengevaluasi penataan Pasar Johar yang seharusnya selesai Desember 2021 tersebut.
Nur Kholis, yang baru saja menduduki jabatan Kepala Dinas Perdaganganpun berusaha menunjukkan kinerjanya dalam penataan ini.
“Jadi intinya kami mempertimbangkan dari jenis lapaknya, loss atau kios, juga jenis dasarannya sesuai historis para pedagang itu. Harapannya dari pertimbangan seperti itu ada titik temu antar pedagang,” ujarnya.
Dinas Perdagangan berusaha bisa menyelesaikan penempatan ini sebelum bulan Ramadhan dan Idul Fitri tiba.
Anggota Komisi B DPRD Kota Semarang, Juan Rama meminta agar semua pihak tidak semata-mata mengedepankan egonya masing-masing, dalam penyelesaian penempatan pedagang Pasar Johar.
“Saya pikir penataan ulang diperlukan, kalau melihat kondisi yang ada sekarang ini. Jika tidak seperti itu, maka masalah ini tidak akan pernah selesai. Hal yang terpenting, harus bisa mengesampingkan rasa egois dari masing-masing pihak. Prioritas penempatan pedagang, alangkah baiknya mendahulukan bagi pedagang asli Pasar Johar sebelum direlokasi,” ujar dia. (lna)

Leave a Reply