
JoSS, TOKYO – Badan Energi Atom Jepang JAEA dan Mitsubishi Heavy Industries akan bekerja sama dengan Amerika Serikat dan perusahaan ventura Bill Gates untuk membangun reaktor nuklir berteknologi tinggi di Wyoming.
Sebagaimana dilansir dari Harian Yomiuri, pada Sabtu, 1 Januari 2022, melaporkan JAEA dan Mitsubishi akan menandatangani kesepakatan pada awal Januari untuk memberikan dukungan teknis dan data dari reactor nuklir canggih Jepang sendiri, kata laporan itu mengutip beberapa sumber.
Adapun TerraPower, sebuah usaha tenaga nuklir canggih yang didirikan oleh Bill Gates, akan membuka pabrik natrium di Wyoming pada 2028 mendatang. Pemerintah AS akan menyediakan dana untuk menutupi setengah dari proyek senilai $4 miliar atau hampir 57 triliun itu.
Terrapower awalnya mengeksplorasi prospek pembangunan pembangkit nuklir eksperimental dengan China National Nuclear Corp milik negara, namun dipaksa untuk mencari mitra baru setelah pemerintahan Donald Trump membatasi kesepakatan nuklir dengan Cina.
Amerika Serikat telah bersaing dengan Cina dan Rusia yang juga berharap bisa membangun dan mengekspor reaktor canggih.
Dari Matahari buatan hingga energi tanpa batas, Amerika Serikat (AS), China, dan Rusia bersaing menciptakan fusi nuklir seperti Matahari. Teknologi ini menjanjikan dunia yang lebih baik, namun bagi sebagian orang dianggap bisa membahayakan.
Di jantung Matahari kita, terdapat “tungku” nuklir yang bekerja tanpa henti, di mana panas yang tak tertandingi dan gaya gravitasi yang disebabkan oleh massanya yang luar biasa memberikan tekanan hebat pada intinya.
Tekanan ini menggabungkan dua isotop hidrogen bersama-sama. Reaksi tersebut mengeluarkan sejumlah besar energi dalam bentuk cahaya dan panas yang menjadi dua komponen penting bagi kehidupan di Bumi, sambil melepaskan helium sebagai produk sampingannya.
Dikutip dari TRT World, cara kerja fusi seperti ini coba diwujudkan manusia dengan menciptakan tokamak, sebuah ruangan berbentuk seperti donat dengan cincin magnet raksasa untuk menahan plasma super panas dan memutar partikel bermuatan sehingga mereka menyatu pada suhu yang sangat tinggi.
Terobosan yang disebut sebagai Matahari buatan ini menjanjikan alternatif energi bersih untuk menghilangkan ketergantungan pada energi bahan bakar fosil.
Sementara itu, Jepang di sisi lain, memiliki sejarah pahit dalam menonaktifkan reaktor canggih prototipe Monju pada tahun 2016, sebuah proyek yang menelan biaya $8,5 miliar tetapi memberikan sedikit hasil dan kontroversi selama bertahun-tahun.
Fasilitas Monju mengalami kecelakaan, pelanggaran peraturan, dan ditutup-tutupi sejak konsepsinya, dan ditutup menyusul ketidakpercayaan publik terhadap energi nuklir setelah bencana nuklir Fukushima 2011. (lna)

Leave a Reply