Aksi Klitih di Jogja Makin Brutal, 4 Orang Jadi Korban Pembacokan

Ilustrasi (Foto: prfmnews.id)

JoSS, JOGJA – Aksi kekerasan jalanan atau biasa disebut klitih di Jogja makin mengkhawatirkan. Berdasarkan informasi melalui foto tangkapan layar yang diunggah oleh akun Twitter @al_arif14, peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (1/1/2022) di sekitar kawasan Lempuyangan, Yogyakarta.

Dalam kejadian itu, empat korban dilarikan ke rumah sakit akibat mendapat sabetan senjata tajam oleh para pelaku. “Adik ketua Pemuda Muhammadiyah Danurejan tadi pagi kebacok di depan TK ABA Lempuyangan pukul 05.00 WIB,” tulisnya dalam unggahan foto tangkapan layar itu.

“Korban dibawa di Bethesda dan ternyata sudah ada 4 korban di sana yang juga korban pembacokan,” lanjutnya.

Adapun kronologinya dijelaskan, saat kejadian itu korban diikuti oleh para pelaku sejak dari depan hotel Jambuluwuk. Sesampainya di perempatan Lempuyangan korban lalu belok ke timur dan dilempar batu. Setelah terjatuh korban dibacok dengan menggunakan celurit.

Menanggapi informasi itu, sehari setelahnya polisi melalui akun Twitter @PoldaJogja menyampaikan jika pelaku sudah diamankan. Saat ini pengembangan penyelidikan masih dilakukan untuk mengejar pelaku lain dalam peristiwa tersebut.

“Kami informasikan, kelompok pelaku peristiwa di Lempuyangan (Sabtu, 1 Jan 2022, 05.00 WIB) sebagaimana twit @al_arif14 sudah ada yang diamankan. Petugas melakukan penyelidikan adanya pelaku lain dalam peristiwa tersebut,” tulisnya, dilansir dari bisnis.com.

Aksi kekerasan jalanan atau biasa disebut klitih di Yogyakarta terus menjadi sorotan publik. Aksi yang biasa dilakukan oleh remaja usia SMP maupun SMA itu diketahui sudah lama terjadi dan sangat meresahkan masyarakat.

Menurut sosiolog kriminal Universitas Gadjah Mada (UGM) Suprapto, klitih sendiri sebenarnya memiliki makna positif. Karena dalam bahasa Jawa, klitih memiliki arti kegiatan di luar rumah untuk mengisi waktu luang.

Baca juga: Kejahatan Jalanan Marak #SriSultanYogya DaruratKlitih Ramai

Hanya saja, makna klitih kemudian menjadi menyimpang karena dalam mengisi waktu luang itu justru digunakan untuk melakukan tindakan kejahatan di jalanan. Saat ini makna klitih dimaknai sebagai aksi kejahatan yang kebanyakan dilakukan remaja di jalanan pada malam hari.

Gambaran dari klitih adalah aksi penyiletan terhadap orang lain. Biasanya pelaku klitih adalah sekelompok geng yang berusaha menyerang lawannya. Tetapi bisa juga menyasar masyarakat umum yang sama sekali tidak dikenal oleh pelaku.

Meskipun demikian, klitih diyakini bukan kejahatan bawaan lahir, tetapi dilakukan secara sadar. Kebanyakan motif pelaku adalah balas dendam, rasa tidak suka, atau sekadar mencari-cari kegiatan sebagaimana makna asli dari klitih.

Aksi klitih sebagai kenakalan remaja bukanlah kenakalan biasa, karena banyak memakan korban dengan cara melukai fisik. Mereka tidak pandang bulu dalam menentukan korbannya. Mayoritas sesama remaja, namun mahasiswa hingga orang dewasa pun tak luput menjadi korban aksi klitih yang marak di Jogja.

Para pelaku aksi klitih biasanya tidak segan melukai korban dengan cara membacok, memukul, atau menyerang menggunakan senjata tajam. Berbeda dengan begal yang merampas harta korban, pelaku klitih biasanya cukup puas melihat korban terluka dan tidak berdaya. Mereka akan meninggalkan korban terkapar begitu saja.

Zulfikar Pamungkas dalam skripsi bertajuk Fenomena Klithih sebagai Bentuk Kenakalan Remaja dalam Perspektif Budaya Hukum di Kota Yogyakarta (2018), ada dua faktor yang menyebabkan maraknya aksi tersebut.

Yaitu faktor lingkungan dan internal remaja. Sarjana hukum lulusan Universitas Islam Indonesia itu menyebutkan lemahnya kontrol diri remaja memengaruhi kepribadian mereka dalam berperilaku positif maupun negatif.

Selain itu, maraknya aksi klitih di Jogja yang dilakukan remaja juga disebabkan oleh faktor internal berupa masa pubertas yang berpengaruh pada ego dan rasa ingin tahu yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang orang tua, masalah keluarga, hubungan dengan kelompok, hubungan dengan lingkungan, serta karakter individu sangat berpengaruh pada perilaku klitih di Jogja.  (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*