
Salah satu tempat yang menjadi ikon ibukota Jawa Tengah adalah Simpang Lima. Sebuah lapangan yang tersambung dengan ruas jalan utama yang ada di Kota Semarang yang dikenal sebagai Simpang Lima sejatinya bernama Lapangan Pancasila. Landmark yang dibuat atas saran Presiden Pertama RI, Ir Soekarno, untuk menggantikan Aloon-Aloon di sekitar Johar yang dirtasa sudah sangat padat di tahun 60-an.
Tapi tahukah Anda bahwa sebenarnya di Kota Semarang ada 5 Simpang Lima?
Yang pertama adalah Simpang Lima yang semula bernama Lapangan Pancasila. Kalau orang menyebut Simpang Lima (X-5) Semarang asosiasinya langsung tertuju pada tempat pertemuan Jalan Pahlawan, Jalan Pandanaran, Jalan Ahmad Yani, Jalan Gajah Mada dan Jalan Ahmad Dahlan. Area ini menjadi sangat populer karena menjadi pusat berbagai kegiatan masyarakat.

Sebelum ada Mall Citraland dan Simpang Lima Plaza, di situ sudah ada Masjid Baiturahman, GOR Semarang dan Gedung Bioskop Gajah Mada Theater. Lokasi bekas GOR berganti menjadi dipindah ke Jatidiri, lokasinya dipakai juntuk Mall Citraland, sementara Gedung Pancasila lokasinya dipakai sebagai Simpang Lima Plaza dan bekas gedung bioskop pernah menjadi Ace Hardware.
Padat dan beragamnya kegiatan di kawasan tersebut –termasuk kegiatan upacara besar dan penyelenggaraan pentas hiburan di ruang Lapangan Pancasila, membuat kawasan Simpang Lima Semarang menjadi area yang terkenal dna menjadi lokasi yang mahal. Berbagai usaha komersial seperti hotel dan mall serta restoran menjamur di ruas sekelilingnya; sementara di ruas luarnya menjadi sentra makanan tradisonal dan ruang terbukanya menjadi ruang rekreasi warga.
Simpang lima kedua yang dimiliki kota Semarang adalah titik lokasi yang sering disebut sebagai Bundaran Tugu Muda. Pertemuan dari lima ruas jalan yaitu Jalan Soetomo, Jalan Mgr Soegijopranoto, Jalan Pandanaran, Jalan Pemuda dan Jalan Imam Bonjol juga berkembang menjadi ikon kota setelah Bung Karno menginisiasi dibangunnya Tugu Muda untuk mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang yang terjadi di kawasan itu.
Salah satu tempat kunjungan wisata yang berkembang di situ adalah Gedung Lawang Sewu, bekas kantor perusahaan kereta api pertama di Indonesia. Yang belakangan berkembang, bekas Makodam Diponegoro yang dialihfungsikan menjadi Museum Mandala Bhakti, sekarang dilengkapi food court yang menyajikan menu mulai tradisional sampai internasional.

Adapun simpang lima lain yang ada di Semarang adalah Bundaran Bubakan di Kawasan Kota Lama yang menjadi titik temu dua ruas Jalan MT Haryono, Jalan Patimura, Jalan KH Agus Salim dan Jalan Cendrawasih. Lokasi yang semula menjadi bundaran sudah diubah menjadi Museum Bubakan yang disebut juga sebagai Museum Kotalama. Di sini ada kolam retensi, sclupture, serta artefak berupa ujung benteng (bastion) Kota Lama serta informasi sejarah tentang Kota Lama.
Kemudian Bundaran Tugu Adipura yang ada di samping Jembatan Banjir Kanal Barat Semarang. Titik temu dari Jalan Soegijopranoto, Jalan Basudewo, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Kokrosono serta Jalan Indraprasta ini belakangan terkenal karena di lokasi tersebut setiap Jumat malam dan Sabtu malam ada atraksi air mancur menari (Semarang Bridge Fountain) namun karena Pandemi Covid-19 dihentikan juntuk sementara waktu.
Yang terakhir adalah simpang lima di Kawasan Pasar johar. Titik temu dari dua ruas Jalan Pemuda, Jalan Kolonel Sugiono, Jalan KH Agus Salim dan Jalan Aloon-Aloon ini tak memiliki penanda yang mudah dikenali. Namun, diduga titik ini yang menginspirasi lahirnya Simpang Lima yang dikenal sekarang di lokasi Lapangan Pancasila.

Sebenarnya ada titik lain yang bisa disebut simpang limanya Semarang, yaitu Bundaran Kalibanteng yang sekarang dikenal sebagai Fly Over Kalibanteng. Namun dengan dibukanya jalan Yos Sudarso lokasi itu menjadi titik temu enam jalan, termasuk jalan akses lama ke Bandara, Jalan A Yani.
Yang terbaru, Pemkot Semarang tampaknya senang dengan model simpang lima. Setelah upaya pengembangan Simpang Lima di Pedurungan yang belum final, kini tengah digalang pengembangan simpang lima baru di depan Polda Jateng yang terhubung dengan Jalan Sriwijaya, sebagai ikon pertumbuhan kawasan. Namun masih ada persoalan karena di lokasi tersebut ada Taman Makam Pahlawan yang belum setuju jalan di depannya dipakai sebagai jalan umum. (Agus Widyanto)

Sip bro
Sip bro, piye kabare