JoSS, BANYUMAS – Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno mengatakan bus Trans Banyumas yang baru saja diresmikan pemerintah, layak dijadikan model bagi kawasan aglomerasi lain.
Pasalnya, operasional Teman Bus dengan skema buy the service (BTS) ini telah didesain khusus dengan konsep ramah disabilitas, yaitu dilengkapi dengan lantai rendah di bagian belakang bus serta ramp sebagai akses bagi pengguna kursi roda. Bus ini juga dilengkapi perangkat yang bisa membawa sepeda di bagian depan.
“Bus Trans Banyumas ini sangat inovatif dan layak dijadikan model transportasi umum di kawasan aglomerasi lain,” kata Dosen Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata ini kepada JoSS.co.id.
Seperti diketahui, Jawa Tengah memiliki kawasan aglomerasi antara lain Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, Purwodadi). Ada juga Subosukawonosraten (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen Klaten). Barlingmascakeb yang meliputi (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen).
Kemudian Purwomanggung (Purworejo, Magelang, Wonosobo, Temanggung), Bregasmalang (Brebes, Tegal, Slawi, Pemalang), Wanarakuti (Juwana, Jepara, Kudus, Pati), Petanglong (Pekalongan Batang, Kab. Pekalongan) dan Banglor (Rembang dan Blora).
Pada tahun 2021 Banyumas termasuk ke dalam 5 daerah yang telah disiapkan sistem buy the service oleh Kementerian Perhubungan. Alasan dipilihnya Kabupaten Banyumas, karena berdasarkan hasil evaluasi, penelitian, dan kajian yang dilakukan oleh tim independen yang dipimpin oleh pakar transportasi, Djoko Setijowarno, bahwa potensi masyarakat Banyumas masih familiar dengan angkutan umum dan melihat bagaimana keberhasilan Trans Jateng yang ada di Banyumas.
Baca juga: Bus Trans Banyumas Mulai Beroperasi, Selama Desember Gratis!
“Sebelumnya untuk kabupaten Banyumas telah diajukan sebanyak 5 koridor antar kabupaten. Akan tetapi karena kemampuan anggaran refocusing yang berkali-kali dilaksanakan, kami memilih kembali kabupaten kota yang akan diberikan BTS untuk mengurangi koridornya,” katan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi, dalam keterangan resminya usai peresmian Trans Banyumas, Minggu (5/12/2021).
Adapun tiga koridor yang dioperasionalkan yakni, koridor 1 dengan rute Pasar Pon – Terminal Ajibarang, dengan jarak tempuh pulang pergi 39 km. Kemudian koridor 2 dengan rute Terminal Notog – Terminal Baturaden Bawah berjarak tempuh 48 km.
Sementara koridor 3 dengan rute Terminal Kebon Dalem – Terminal Bulupitu berjarak tempuh 47 km. Trans Banyumas beroperasi mulai pukul 05.00 WIB – 21.00 WIB.
“Angkutan umum pada sebuah negara maju telah menjadi backbone. Jadi, jika Purwokerto atau Banyumas ingin disebut sebagai kota yang maju dan modern, kita harapkan dapat mengkampanyekan kepada masyarakat sekitar untuk menggunakan bus ini,” tambahnya.
Sementara itu Direktur Angkutan Jalan, Suharto menambahkan, Trans Banyumas akan melayani dengan jarak antar bus (headway) sejauh 12 menit.
Lalu, pada bulan ini akan dioperasikan 1 koridor yaitu koridor 3 Terminal Kebon Dalem – Terminal Bulupitu. Sebanyak 52 unit armada siap melayani masyarakat.
“Dari 52 unit armada akan dialokasikan 10 persen untuk melayani masyarakat yang berkebutuhan khusus,” tambah Suharto.
Suharto menjelaskan, pihaknya menerapkan Standar Pelayanan Minimum, meliputi pemasangan perangkat monitoring berbasis IT guna menjaga kualitas layanan dan sudah dilengkapi dengan penyaring udara ion, serta rak sepeda di bagian depan yang bertujuan sebagai alat transportasi intermoda.
“Untuk saat ini program layanan Teman Bus tidak dipungut biaya atau gratis. Hingga peraturan terkait PNBP dikeluarkan, maka akan dikenakan tarif sekitar Rp 2.000 untuk mahasiswa/pelajar dan Rp 3.500 untuk masyarakat umum,” pungkas Suharto. (lna)

Leave a Reply