
JoSS, SOLO – Prof. Dr. Drs. Guntur M,Hum. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Pengkajian Seni Pertunjukkan dan Seni Rupa/Kriya Institut Seni Indonesia (ISI Solo). Rektor ISI Solo periode 2017-2021 ini menjadi Guru Besar ke-13.
Pengukuhan Guntur sebagai Guru Besar dilaksanakan di Pendapa GPH Joyokusumo ISI Solo, Selasa (21/12/2021). Di akhir pidatonya, Guntur menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pihak yang telah mendukungnya.
Dalam orasi ilmiahnya, Guntur menyoroti fenomena kriya retro di kalangan masyrakat. Karena objek kriya retro menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat saat ini. Judul yang diambil, yakni “Kriya Retro: Beautifikasi dan Legitimasi Artistik”.
“Kriya retro didukung sumber daya, pasar atau toko, pedagang, wirausahawan estetika, dan repeater yang siap menyediakan objeknya. Hasil penelitian ini, merupakan usaha keras dan komitmen dalam melaksanakan Tri Dharma perguruan tinggi. Khususnya di bidang penelitian dan publikasi,” tuturnya, dilansir dari solopos.com.
Guntur mencontohkan saat ini banyak masyarakat yang mengenakan busana batik lawasan pada berbagai acara di ruang publik. Kemudian dalam membangun atau menghias rumah, juga banyak yang memanfaatkan ornamen lawas. Seperti gebyok ukir kayu, baik lawasan atau baru.
Baca juga: ISI Solo Menangkan Dana Hibah Pendanaan Kompetisi Kampus Merdeka Rp1,1 Miliar
Kemudian bangunan garasi mobil dan pagar rumah yang dibangun dari material bekas kandang kerbau, serta penggunaan mebel, furnitur, atau aksesori bergaya lama. Bukan hanya di ranah pribadi, pemanfaatan barang gaya lawas juga banyak muncul di ruang publik.
Guru besar ISI Solo itu mencontohkan rumah tradisional dengan berbagai tipologinya dijadikan gedung perkantoran, tempat bisnis, dan museum. Rumah pribadi dijadikan butik, kafetaria, toko, kedai kopi, rumah makan, dan lain-lain.
Rektor ISI Solo I Nyoman Sukerna mengatakan dengan dikukuhkannya Guntur sebagai Guru Besar, ISI Solo saat ini memiliki 13 profesor. “Prof. Dr. Drs. Guntur M,Hum., adalah profesor ke-13 di ISI Surakarta dan yang kedua di Fakultas Seni Rupa dan Desain,” kata dia dalam sambutan pengukuhan Guru Besar, Selasa.
Namun, untuk Guru Besar yang masih aktif di ISI Solo saat ini hanya ada tujuh profesor. Dia mengatakan Guru Besar atau profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi.
“Profesor memiliki kewenangan membimbing calon doktor. Profesor memiliki kewajiban khusus menulis buku dan karya ilmiah dan menyebarkan gagasannya untuk mencerdaskan masyarakat,” jelas dia.
Menurut Rektor ISI Solo, menjadi Guru Besar merupakan awal lanjutan pengabdian memberikan kontribusi, produksi beberapa tingkat lebih tinggi dari asisten ahli, lektor maupun lektor kepala, dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Semoga ini akan menghadirkan semangat baru yang senantiasa membangkitkan inspirasi baru dalam melahirkan karya lebih brilian dan bermanfaat untuk masyarakat umum,” lanjut dia.(lna)

Leave a Reply