Masuk Warisan Budaya Tak Benda, Tradisi Mondosio Kembali Digelar

Ilustrasi penampilan seni reog dalam Tradisi Mondosio ( Foto: Stefanus Ajie/Jakarta Post/goodnewsfromindonesia.id)

JoSS, KARANGANYAR — Tradisi Mondosio telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) pada tahun ini.

Untuk tetap melestarikan budaya tersebut, tradisi Mondosio kembali digelar di Dusun Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Selasa (30/11/2021).

Mondosio merupakan salah satu tradisi masyarakat di lereng Gunung Lawu yang masih dijaga kelestariannya hingga saat ini. Menurut salah satu warga setempat, yang juga Kasi Trantib Kelurahan Kalisoro, Santoso, Mondosio biasa digelar setiap tujuh bulan sekali.

Mengacu pada kalender Jawa, wuku Mondosio. “Dalam kalender Jawa dilakukan setiap Selasa kliwon, Wuku Mondhosio,” kata dia, Selasa.

Dia menjelaskan di Kelurahan Kalisoro, tradisi Mondosio digelar di dua lingkungan, yakni Pancot Los dan Pancot Kidul. Kegiatan dipusatkan di pendapa di lingkungan tersebut. Menurut dia, selain di Pancot, tradisi Mondosio juga dapat ditemui di daerah lain di lereng Gunung Lawu. Namun setiap daerah memiliki jenis kegiatan yang berbeda.

Ada berbagai rangkaian kegiatan yang digelar. Di antaranya pertunjukan reog yang di jalan utama lingkungan setempat. Ada lebih dari delapan reog yang beraksi. Pengunjung yang datang tidak hanya dari wilayah Tawangmangu. Bahkan ada beberapa di antaranya yang datang dari luar daerah.

Saat ini ada dua kebudayaan lokal Karanganyar yang ditetapkan sebagai WBTB. Keduanya adalah tradisi Mondosio dan Dukutan. Kasi Cagar Budaya pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar, Hastutiningdyah Wijayatmi, mengatakan penetapan Mondosiyo dan Dukutan sebagai WBTB dilakukan belum lama ini secara daring.

Baca juga: Gudeg Manggar Warisan Budaya Takbenda Hidangan Khas Saat Keraton Ngayogyakarta Mantu

Selain di Dusun Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, tradisi Mondosio juga digelar warga Dusun Cetho, Desa Gumeng, Jenawi, Karanganyar pada hari yang sama, Selasa (30/11/2021). Di Dusun Cetho, tradisi Mondosio digelar di kawasan Candi Cetho.

Berbeda dengan di Dusun Pancot yang ramai dengan atrasi delapan reog, upacara mondosio di Dusun Cetho digelar lebih khidmat dengan lebih banyak berdoa. Meski demikian, tradisi mondosio ini bukan upacara keagamaan.

“Pada prinsipnya upacara Mondosio ini lebih ke adat bukan keagamaan. Untuk wisatawan apabila ingin mengikuti upacara dipersilakan, boleh-boleh saja, malah kami lebih senang. Kita tidak memandang suku, ras, agama, selama tidak ada tendensi apa-apa, intinya pengin gabung, kita buka pintu lebar-lebar,” kata juru pelihara Candi Cetho, Suroto, seperti dilansir dari Solopos.com, Selasa (30/11/2021).

Sejumlah warga terlihat membawa sejumlah makanan yang dikumpulkan dalam satu tikar di tengah-tengah teras lima Candi Cetho. Kemudian mereka duduk melingkari makanan tersebut. Lalu pemimpin upacara akan memimpin doa, yang lain mendengarkan. Begitu doa selesai, makanan yang tersaji dimakan bersama-sama.

Ini merupakan simbol rasa syukur bagi warga kepada Tuhan sekalius mendoakan leluhur tertua yang dinamakan danyang.

“Sebenarnya kalu tidak dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti ini, upacaranya itu besar. Jadi ada satu rangkaian, untuk upacaranya sendiri ada tiga rangkaian yang menjadi satu.” ujar Suroto.

Rangkaian pertama adalah wut galang, kemudian ada sedekah bumi, dan terakhir adalah bersih dusun. “Mayoritas penduduk Cetho kan petani hasil, panennya itu apa, itu yang dipersembahkan. Namun saat ini hanya disimbolikkan dengan masing-masing KK membawa panggang tumpeng. Terakhir bersih dusun dalam artian kalau bahasa dalam keyakinan Hindu itu membersihkan secara niskala yaitu membersihkan dari wujud-wujud yang tidak terlihat atau menyucikan aura tempat ibadahnya ini sendiri,” jelas Suroto. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*