Dokter Spesialis Patologi Klinik RS UNS Surakarta Jelaskan Efektivitas Vaksin Covid-19 Terhadap Omicron

Dokter Spesialis Patologi Klinik Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K), Ph.D, FISQua. (Foto: uns.ac.id)

JoSS, SOLO – Dokter Spesialis Patologi Klinik Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K), Ph.D, FISQua mengatakan, vaksin Covid-19 yang digunakan saat ini baru berfokus pada gejala berat dan kematian.

Apabila ingin mendapatkan vaksin Covid-19 yang mampu mencegah infeksi di saluran pernapasan bagian atas, tentu waktu yang dibutuhkan akan lebih lama.

“Di negara yang menghadapi Omicron, misal Inggris, cakupan vaksinasinya sudah tinggi. Ketika Omicron menyebar secara angka lebih banyak dari kelompok yang sudah divaksin. Tapi, kalau secara proporsional atau persentase, lebih banyak dari kelompok yang belum divaksin,” terang dr. Tonang, Senin (27/12/2021).

Berkaca dari meledaknya pertambahan kasus Omicron di Inggris, ia menjelaskan bahwa risiko orang yang sudah divaksinasi Covid-19 untuk menjalani rawat inap ketika terjangkit Omicron hanya 31-45 persen.

Sedangkan, bagi mereka yang belum disuntik vaksin Covid-19, risiko menjalani rawat inap di ruang isolasi ketika terjangkit Omicron meningkat menjadi 50-70 persen.

Tonang menyampaikan, persentase rawat inap untuk orang yang sudah divaksinasi Covid-19 ketika terjangkit Omicron, lebih rendah daripada Delta yang menyebar pada pertengahan tahun ini.

“Sedangkan, pada yang belum pernah terinfeksi dan belum divaksinasi Covid-19 risikonya sebesar 11 persen dibandingkan varian Delta. Ini artinya, 4-7 kali lebih tinggi daripada kelompok yang sudah divaksinasi Covid-19,” jelasnya dilansir dari uns.ac.id.

Jika melihat cakupan vaksinasi Covid-19 di Indonesia, ia mengatakan persentase suntikan vaksin lengkap sudah mencapai 40,65 persen. Sekitar 17 persen masyarakat baru mendapat suntikan pertama, sedangkan sekitar 42,3 persen belum mendapatkan vaksin Covid-19 sama sekali.

Dari persentase tersebut, dr. Tonang mengkhawatirkan kelompok yang belum tervaksinasi Covid-19 akan lebih mudah terjangkit Omicron.

Baca juga: Antisipasi Omicron, Pemerintah Siapkan 16 Ribu Oksigen Generator Dan 15 Mesin WGS

“Dan yang perlu diingat yang lebih cepat tertular adalah yang prokesnya paling kendor. Tidak pakai masker dan tidak rajin cuci tangan. Untuk mereka yang punya antibodi, virus akan lebih cepat bersih. Tapi, yang tidak punya baru bersih virusnya sekitar 14 hari sejak terinfeksi,” ujar dr. Tonang.

Karena vaksin Covid-19 yang sudah diproduksi masih belum mampu menghindarkan orang dari varian baru SARS-CoV-2, muncul wacana untuk menyuntikkan booster.

Perlu diketahui, booster berbeda dengan dosis ketiga yang selama ini salah diartikan banyak orang. Booster merupakan vaksin tambahan untuk memastikan dua dosis vaksin Covid-19 yang sudah disuntikkan telah membentuk imunitas.

Sedangkan, dosis ketiga adalah vaksin yang wajib disuntikkan dan menjadi bagian utama vaksin Covid-19, layaknya dosis pertama dan kedua.

Untuk wacana itu, dr. Tonang mengutarakan bahwa keharusan penyuntikkan booster perlu didalami dulu. Sebab, laporan ini masih berasal dari penelitian laboratorium.

“Istilahnya baru in vitro. Tidak salah, hanya harus pelan-pelan bila diterjemahkan di lapangan. Laporan itu dari negara-negara yang vaksinasinya sudah 70-80 persen tapi di Indonesia kan baru 40-an persen,” imbuh dr. Tonang.

Ia mengatakan, walau seseorang berisiko terjangkit Omicron, bukan berarti efektivitas vaksin Covid-19 hilang. dr. Tonang menampik anggapan ini dan menegaskan efektivitas vaksin Covid-19 hanya menurun.

Daripada fokus membahas booster, dr. Tonang justru meminta Pemerintah untuk segera menggencarkan suntikan dosis kedua vaksin Covid-19.

“Ini lebih penting, lebih bermakna, dan lebih kuat efeknya komunalnya menghadapi apa pun varian Covid-19 yang masih ada dan mungkin akan ada,” imbuhnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*