Alimihan Seyiti, Orang Tertua di Dunia Meniggal Dunia

Alimihan Seyiti (Foto: thesun.co.uk)

JoSS, XINJIANG – Orang tertua di China yang berusia 135 tahun, Alimihan Seyiti, meninggal dunia. Dia meninggal di Daerah Otonom Uighur Xinjiang. Menurut departemen publisitas daerah tersebut, Alimihan Seyiti yang berasal dari Komuxerik, wilayah Shule di Prefektur Kashgar, lahir pada 25 Juni 1886.

Pada 2013, wanita etnis Uighur tersebut menempati peringkat teratas daftar orang tertua di China yang dirilis oleh Asosiasi Gerontologi dan Geriatrik China (China Association of Gerontology and Geriatrics/CAGG), yang sebelumnya dikenal sebagai Perhimpunan Gerontologi China.

“Dia meninggal dengan tenang di rumah saya,” kata Qurban Nur, cucu Alimihan Seyiti yang merawat wanita itu ketika dia masih hidup. Alimihan Seyiti memiliki kehidupan sehari-hari yang sangat sederhana dan teratur sampai dia menghembuskan napas terakhirnya.

Dia selalu makan secara tepat waktu dan menikmati berjemur di bawah sinar matahari di halaman rumahnya serta mengobrol dengan tetangganya. Terkadang, dia membantu merawat cicit-cicitnya. Komuxerik dikenal sebagai “kota umur panjang”, dengan lebih dari 40 lansia berusia di atas 90 tahun, menurut data tahun lalu.

Peningkatan layanan kesehatan turut berkontribusi terhadap umur panjang mereka. Pemerintah setempat menyediakan layanan dokter kontrak, pemeriksaan fisik tahunan gratis, dan subsidi hari tua bulanan untuk para lansia berusia di atas 60 tahun.

Baca juga: Dukun di Sri Lanka Penemu Ramuan Anticorona Meninggal Akibat Covid-19

Rata-rata harapan hidup penduduk di Xinjiang meningkat dari 30 tahun pada 1949 menjadi 74,7 tahun pada 2019, menurut statistik resmi, dilansir dari bisnis.com.

Sebelumnya, wanita Jepang yang dianggap oleh Guinness World Records sebagai orang tertua di dunia baru saja mencapai tonggak sejarah lain di Jepang, di mana dia mencetak rekor sebagai orang yang paling lama hidup di negara itu.

Pada hari Sabtu pekan lalu, Kane Tanaka menandai 117 tahun dan 261 hari hidup, melampaui usia Nabi Tajima, yang meninggal pada 2018 pada usia 117 tahun dan 260 hari, menurut Japan Times. Tanaka menerima hadiah ucapan selamat dari prefekturnya dan menerima pesan penghormatan dari beberapa pejabat lokal.

Dia difoto dengan sebotol Coca-Cola, yang kabarnya merupakan minuman ringan favoritnya, dan mengenakan t-shirt dengan foto dirinya yang diambil selama perayaan resmi Guinness World Records tahun lalu.

“Bahkan di tengah pandemi virus corona baru, nenek saya sehat-sehat saja dan terlihat menikmati hidupnya setiap hari,” kata Eiji, cucu Tanaka yang berusia 60 tahun, dilansir dari Foxnews. “Sebagai sebuah keluarga, kami senang dan bangga dengan rekor baru ini,” ujarnya.

Tanaka lahir pada 2 Januari 1903. Dia saat ini tinggal di panti jompo di Fukuoka, di mana dia menikmati belajar matematika, permainan Othello, dan coklat. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*