
JoSS, SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen meminta seluruh daerah disiplin mengisi aplikasi PCare dan SMILE setelah vaksinasi. Sehingga pemerintah, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dapat terus memantau vaksinasi di tingkat daerah.
“Artinya kalau kita mau disiplin input data kita bisa cepat kerjanya. Dan itu akan mempengaruhi pengiriman (vaksin) dari pusat,” kata Gus Yasin, sapaannya, dalam rapat penanganan Covid-19 di Gedung A Lantai 2 Kantor Gubernur, Senin (1/11/2021).
Dilansir dari jatengprov.go.id, Gus Yasin juga mengingatkan kepada seluruh kepala daerah, agar terus mengecek kedaluwarsa setiap vaksin, dan wajib menyuntikkan ke masyarakat sebelum jatuh batas waktu efektif penggunaan.
Terkait permintaan vaksin Sinovac, Gus Yasin meminta kepada daerah yang tidak mampu menghabiskan vaksin Sinovac agar melapor. Sehingga, dapat dialihkan penggunaannya ke daerah lain yang membutuhkan.
“Di sini (SMILE) sinovac itu datanya kok masih banyak ya. Kalau memang belum disuntikkan, kalau memang tidak mampu, bisa kita alihkan,” tutupnya.
Sementara itu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menegaskan kepada seluruh daerah agar tidak menyuntikkan vaksin yang sudah kedaluwarsa. Jangan sampai kepala daerah mengejar target dan ingin menghabiskan stok vaksin, sehingga tetap menyuntikkan vaksin yang sudah kedaluwarsa.
“Nanti salah suntik, malah menimbulkan masalah baru,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menggenjot percepatan vaksinasi di seluruh wilayahnya. Hingga saat ini, Dinas Kesehaten (Dinkes) Jateng mencatat persentase jumlah warga yang telah menjalani vaksin mencapai 60 persen.
Kepala Dinkes Provinsi Jawa Tengah Yulianto Prabowo mengatakan capaian 60 persen warga yang telah menjalani vaksin merupakan hal bagus.
“Sudah 60 persen lebih. Ini sudah bagus sekali. Bisa 60 persen lebih,” kata Yulianto, seusai Rapat Penanganan Covid-19 di Kantor Gubernur, Senin (1/11/2021).
Baca juga: DPRD Jateng Berkomitmen Dukung Pengentasan Kemiskinan dan Pemberdayaan Ekonomi Pasca Pandemi
Menurutnya, meski pencapaian vaksin menunjukkan hal yang bagus. Namun masih ditemukan adanya kabupaten yang masih di bawah 40 persen vaksinasinya. Dengan jumlah disparitas atau perbedaan yang masih tinggi.
“Disparitasnya di beberapa kabupaten yang masih agak ketinggalan ini perlu percepatan-percepatan,” tutur Yulianto.
Dikatakan, kabupaten yang vaksinasinya masih di bawah 40-50 persen adalah Banjarnegara, Kabupaten Tegal, Purbalingga, Batang, Jepara, Wonosobo, Pemalang, Brebes, Grobogan, Pekalongan, Kabupaten Magelang, Kebumen, dan Pati. Di daerah-daerah itulah yang akan digenjot lebih cepat.
Yulianto mengungkapkan, kendala daerah yang vaksinasinya masih di bawah 50 persen antara lain; sasarannya masih sulit diajak vaksinasi, terbatasnya jumlah vaksinator, dan jumlah faskes yang melayani vaksinasi. Tidak hanya itu, lanjutnya, komitmen dari pemerintah daerah juga perlu didorong, mengingat masih ada tempat dengan kesadaran vaksinasi yang masih rendah.
“Lansia ini memang agak lambat. Lalu juga disabilitas, ibu hamil, penderita komordibitas. Ini memang kecepatannya enggak seperti yang lain,” terangnya.
Dengan demikian, bebernya, strategi jemput bola harus dilaksanakan secara simultan bersama, seperti yang dilakukan pemerintah kabupaten/ kota, termasuk di puskesmas, sampai tingkat kecamatan. Sebab, pelayanan vaksinasi itu akan lebih efektif pada komunitas yang lebih rendah, contohnya, tingkat RW, RT, desa, kelurahan.
Menurut Yulianto, pola sentra vaksinasi yang ada di pusat kota sudah cukup dan jangan ditambah lagi. Bahkan, kalau ada kolaborator yang ingin membantu vaksinasi, pemprov minta pelayanannya itu dilakukan dengan jemput bola di tingkat bawah.
“Akhir-akhir ini masih banyak yang ingin membantu sebagai kolaborator. Tetapi saya sarankan jangan mendirikan sentra vaksin lagi di kota. Tapi pelayanan jemput bola ke komunitas,” ujarnya. (lna)

Leave a Reply