JoSS, SOLO – Salah satu bagunan cagar budaya peninggalan Kerajaaan Mataram Islam, Masjid Agung Solo segera direnovasi, karena kondisi tiang penyangga yang sudah lapuk diserang hewan rayap. Diketahui masjid berusia lebih dari 300 tahun ini dibangun dipertengahan abad ke-17.
Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka Ia mengatakan untuk renovasi Masjid Agung Solo tersebut tidak bisa dilakukan secara parsial melainkan harus menyeluruh. Bahkan, nantinya akan ada penataan di kawasan masjid.
Meski demikian, ia masih enggan menyampaikan besaran anggaran yang dibutuhkan untuk renovasi masjid yang juga merupakan bangunan cagar budaya tersebut.
“Untuk kajiannya sudah saya terima, ini jadi salah satu prioritas juga. Kalau untuk anggaran dengan APBD jelas butuh biaya besar. Untuk angka pasti besaran anggarannya nanti saja, yang jelas karena ini cagar budaya, sehingga jadi salah satu prioritas,” katanya, seperti dilansir dari Antara.
Ketua Takmir Masjid Agung Surakarta Muhammad Muhtarom mengatakan ada beberapa kerusakan pada bagian dalam masjid. Ia mengatakan sebetulnya kerusakan seperti beberapa bagian kayu yang lapuk karena dimakan rayap sudah terjadi pada beberapa tahun lalu.
“Kerusakan terdeteksi sejak dua tahun lalu, dua tahun lalu itu kami tangani sendiri secara swadaya. Saat itu kerusakan nggak nampak, ternyata melebar, asumsinya hanya satu tiang ternyata jadi 14-16 tiang yang terdeteksi rusak, jadi harus ditambal,” katanya.
Ia mengatakan jika tidak segera ditangani, kerusakan akan lebih parah, sehingga membutuhkan anggaran yang lebih besar. Oleh karena itu, ia meminta bantuan dari Pemkot Surakarta terkait anggaran untuk renovasi masjid bersejarah tersebut.
Baca juga: Ternyata Solo dan Surakarta itu Berbeda, Ini Penjelasan Sejarawan UNS
“Kami berkunjung ke sini untuk membahas masalah Masjid Agung. Kerusakan kecil ditangani agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Dalam hal ini kemampuan Madjid Agung juga terbatas, makanya kami kolaborasi dengan pemerintah,” katanya.
Masjid Agung Surakarta merupakan salah satu situs sejarah yang sampai saat ini bisa dikunjungi, bahkan masih berfungsi seperti sedia kala yaknis ebagai tempat beribadah.
Masjid ini berada di kompleks Keraton Surakarta sebagai satu bagian daricatur gatra tunggal atau konsep tata ruang pusat kerajaan saat itu yang meliputi empat bagian, yakni keraton, masjid, pasar, dan alun-alun.
Sejarah Masjid Agung Surakarta Sejarah berdirinya Masjid Agung Surakarta, dilansir dari cagarbudaya.kemendikbud.go.id, tidak lepas dari peristiwa perpindahan pusat Kerajaan Mataram Islam dari Kartasura menuju Desa Sala (Solo) pada 17 Februari 1745.
Adapun, rintisan pembangunan Masjid Agung Surakarta juga dilakukan bersamaan dengan pembangunan keraton. Pada masa pemerintahan Pakubuwana III, pembangunan masjid dimulai pada tahun 1757 dan diperkirakan selesai pada tahun 1768. Informasi tersebut diketahui dari prasasti yang ada di dinding luar ruang utama Masjid Agung Surakarta.
Sebagai informasi, Mataram Islam terbagi menjadi dua pada masa pemerintahan Pakubuwana III melalui perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Berlanjutnya pembangunan Masjid Agung Surakarta Setelah Masjid Agung Surakarta berdiri, pembangunan masih berlanjut. Pada masa pemerintahan Pakubuwana IV, mustaka berbentuk paku bumi ditambahkan di puncak atap masjid.
Penggantian tiang juga dilakukan pada tahun 1791. Saat itu, tiang lama berbentuk persegi yang merupakan bawaan dari Masjid Agung Kartasura diganti menjadi tiang baru berbentuk bulat. Renovasi kembali dilakukan saat masa Pakubuwana VII (1830-1875), yakni pendirian Pawestren pada 1850, perluasan serambi masjid dengan kolom-kolom bergaya doric.
Serambi ini dibangun dengan lantai yang lebih rendah. Selain itu, dibangun juga pagar tembok keliling masjid pada tahun 1858. Sebelumnya pada tahun 1855, mustaka masjid diganti karena tersambar petir.
Kemudian pada masa Pakubuwana X (1893-1939), menara dibangun di halam masjid. Dilakukan pula pembangunan jam matahari untuk mempermudah penentuan waktu shalat. Gapura utama pun diganti menjadi gapura baru bergaya arsitektur Persia pada 1901. Kemudian, kolam air yang dulu difungsikan untuk bersuci diganti dengan bentuk pancuran atau keran. (lna)

Leave a Reply