[widget id="text-5"]

Kasus Positif Kembali Naik, Epidemiolog UGM: Gelombang Ketiga Covid-19 Sebuah Keniscayaan

Ilustrasi

JoSS, JAKARTA – Daerah Jawa dan Bali mencatatkan peningkatan kasus Covid-19 lebih banyak di banding daerah lain. Jawa Barat dan Jakarta mencatatkan kasus harian di masing-masing 175 kasus dan 132 kasus, disusul Yogyakarta 89 kasus, Jawa Tengah 80 kasus, Jawa Timur 65 kasus.

Sementara provinsi lainnya mencatat kasus baru di bawah 30 kasus. Di daerah Bali, pertambahan kasus tercatat 26 kasus, lalu Banten 23 kasus dan Nusa Tenggara Timur sebanyak 22 kasus.

Diketahui, pada hari Rabu (3/11/2021) Satgas Covid-19 mencatat 801 kasus baru secara nasional. Hal tersebut meningkat dibanding pada Selasa (2/11/2021), dengan jumlah tes yang justru lebih sedikit. Yaitu dengan 253. 123 specimen yang diperiksa dalam sehari, sedangkan sehari sebelumnya berjumlah 255.564 spesimen sehari.

Pakar epidemiologi UGM, dr. Riris Andono Ahmad, M.P.H., Ph.D., menyebutkan bahwa gelombang ketiga Covid-19 adalah sebuah keniscayaan. Indonesia diprediksi akan mengalami gelombang ketiga Covid-19 pada Desember 2021-Januari 2022.

“Kemungkinan adanya gelombang Covid-19 berikutnya adalah sebuah keniscayaan. Tinggal pertanyaanya itu kapan terjadi dan seberapa tinggi ini sangat tergantung dengan situasi yang berkembang di masyarakat,” paparnya, belum lama ini.

Riris mengatakan munculnya gelombang Covid-19 ketiga atau gelombang-gelombang berikutnya sangat tergantung pada kondisi di masyarakat. Menurutnya, mobilitas interaksi sosial dan kepatuhan dalam implementasi 3 M yakni menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker di masyarakat merupakan situasi yang bisa memicu gelombang Covid-19 ketiga nantinya.

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 Untuk Anak Usia 6-11 Tahun Bakal Dimulai Awal 2022

Direktur Pusat Kajian Kedokteran Tropis UGM ini menyampaikan bahwa virus Covid-19 masih terus ada dan tidak sedikit orang yang tidak memiliki kekebalan. Sementara, pada orang yang telah mendapatkan vaksin Covid-19, kekebalan yang didapat pun akan menurun seiring berjalannya waktu.

“Jadi, tidak hanya satu kali gelombang tiga lalu stop, tapi akan terjadi lagi selama virus masih ada dan bersirkulasi secara global,” terangnya, dilansir dari ugm.ac.id.

Lalu, terkait vaksinasi. Beberapa negara dengan cakupan vaksinasi relatif tinggi seperti Israel, Inggris, Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa saat ini pun tengah berjuang kembali dengan Covid-19 akibat varian Delta.

Riris menjelaskan saat ada varian Delta dengan tingkat penularan lebih tinggi membutuhkan cakupan imunitas yang lebih tinggi dalam populasi. Misalnya sebelum adanya varian Delta untuk mendapatkan kekebalan kelompok sekitar 70% populasi harus sudah divaksin. Namun, sejak adanya varian Delta, maka cakupan vaksinasi ditingkatkan menjadi 80%. Kondisi tersebut dengan anggapan bahwa vaksin yang diberikan memiliki efektvitas 100%.

Ia menjelaskan dengan kondisi itu artinya vaksinasi di Indonesia untuk bisa mencapai 80% mensyaratkan sekitar 230 juta penduduk harus divaksin. Dalam pelaksanaannya pun seyogianya dilakukan dalam waktu kurang dari 6 bulan agar bisa terwujud kelompok.

“Ini kan sulit, misalnya sanggup pun kekebalan kelompok hanya bertahan beberapa saat dan akan terus berkurang,” ucapnya.

Oleh sebab itu, Riris meminta masyarakat untuk tetap waspada dan tidak lengah. Meskipun saat ini kondisi membaik, tetapi pandemi belum usai. Sebab, risiko penularan masih ada, terlebih saat adanya pelonggaran aktivitas di masyarakat.

Karenanya Riris kembali mengimbau masyarakat untuk tetap patuh menerapkan protokol kesehatan. Sementara pemerintah diminta untuk memperkuat 3T yakni testing, tracing, dan treatment. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


[widget id="text-3"]