
JoSS, JOGJA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta mulai mempersiapkan kewaspadaan dini terhadap potensi bencana seiring naiknya intensitas curah hujan sepekan terakhir.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta Nur Hidayat mengatakan, pihaknya fokus kepada sejumlah sungai besar yang seluruhnya dikelilingi permukiman padat penduduk, terutama Kali Code.
“Saat ini sudah ada 16 titik EWS (early warning system) di tepi sungai- sungai beraliran besar di Yogyakarta yang jadi pendeteksi dini potensi bencana, khususnya banjir,” kata, baru-baru ini,s ebagaimana dilansir dari harianjogja.com.
Hidayat mengatakan dari 16 titik EWS itu, sebaran alat paling banyak ditempatkan di Sungai Code yakni sebanyak tujuh titik. Sungai atau Kali Code yang membelah tengah Kota Yogyakarta merupakan penampung utama aliran Sungai Boyong yang berhulu di kaki Gunung Merapi.
Jika Sungai Boyong meluap akibat banjir lahar dingin, maka bisa turut meningkatkan debit Kali Code. Ini seperti yang terjadi pada 2010. “Selain di Sungai Code, untuk alat EWS juga kami pasang di Sungai Winongo sebanyak empat titik dan di Sungai Gajah Wong sebanyak lima titik,” kata Hidayat.
Dia menuturkan, dari pengecekan pada awal pekan ini, seluruh peralatan pendukung untuk menangani bencana itu masih berfungsi baik. Alat EWS akan memberikan peringatan dini kepada masyarakat sepanjang bantaran sungai apabila ada potensi luapan air sungai.
Jika ada peringatan EWS warga dievakuasi ke tempat yang lebih aman. “Sistem EWS pakai baterai solar cell dan kondisi cuaca kadang mendung, sebelumnya sempat ada alat mati namun sudah langsung perbaiki,” kata Hidayat.
Selain mengandalkan EWS, pemantauan kondisi sungai juga dibantu dengan beberapa kamera CCTV maupun posko pemantauan langsung di hulu. “Ada potensi ancaman lahar dingin mengalir ke sungai-sungai di Kota Yogyakarta jika terjadi hujan deras,” kata dia.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah menyatakan kehadiran kembali fenomena La Nina pada musim hujan tahun ini sampai Februari 2022. Dampaknya adalah peningkatan intensitas curah hujan.
Seperti diketahui, hingga saat ini Gunung Merapi masih aktif memuntahkan lava pijar. Hal itu terlihat dari hasil pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), pada Selasa (2/11/2021) pukul 00.00 WIB-06.00 WIB.
BPPTKG mencatat terjadi enam kali guguran lava pijar dengan jarak luncur 1.200 meter ke arah barat daya. Petugas penyusun laporan aktivitas Merapi BPPTKG, Heru Suparwaka menyampaikan, cuaca berawan dan mendung.
Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat. Suhu udara 16-21°C, kelembaban udara 78-97%, dan tekanan udara 566-717 mmHg. “Secara visual gunung jelas, kabut 0-I, kabut 0-II, hingga kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati,” terangnya, Selasa (2/11/2021).
Untuk kegempaan, gempa guguran tercatat sebanyak 64 kali dengan amplitudo 3-39 mm, durasi 9-147 detik, gempa hembusan sebanyak empat kali, dengan amplitudo 2-7 mm, durasi 13-19 detik. Gempa hybrid atau fase banyak tercatat dua kali, dengan amplitudo 2 mm, S-P 0.3-0.4 detik, durasi 6-8 detik. “Tingkat aktivitas ditetapkan dalam level III atau siaga,” paparnya.
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor Tenggara–Barat Daya sejauh maksimal 3 km ke arah Sungai Woro, dan sejauh 5 km ke arah Sungai Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. (lna)

Leave a Reply